Menkes Sebut Penderita TB Bisa Kembali Bekerja, Asalkan...

12 Oktober 2026 13:13
Penulis: Beno Junianto, lifestyle
Menkes tegaskan penderita TB bisa kembali bekerja dan hidup normal asalkan disiplin minum obat sampai tuntas 6 bulan (IG KEMENKES)

Sahabat.com - Penderita tuberkulosis (TBC) tetap memiliki peluang untuk pulih, kembali bekerja, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Kuncinya adalah menjalani pengobatan secara disiplin hingga tuntas sesuai anjuran tenaga medis.

Pesan tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat meninjau langsung pelayanan tuberkulosis di Puskesmas Johar Baru. Dalam kunjungan itu, ia bertemu dengan seorang pasien TBC yang tengah menjalani masa pemulihan dan menunjukkan perkembangan positif setelah rutin mengonsumsi obat.

Pasien tersebut sebelumnya mengalami penurunan berat badan hingga di bawah 48 kilogram. Namun, setelah menjalani pengobatan selama satu bulan secara disiplin, nafsu makannya mulai kembali dan berat badannya meningkat menjadi 50 kilogram.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengapresiasi semangat pasien tersebut dalam menjalani pengobatan. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengaitkan penurunan berat badan secara drastis dengan hal-hal mistis, karena kondisi tersebut dapat menjadi salah satu gejala penyakit TBC.

Pengobatan Tidak Boleh Berhenti di Tengah Jalan

Dalam kesempatan tersebut, Menkes turut menyinggung pengalaman pasien yang mengeluhkan perubahan warna urine menjadi merah saat mengonsumsi obat TBC.

Namun, perlu dipahami bahwa perubahan warna urine menjadi merah atau jingga dapat terjadi akibat penggunaan obat tertentu, seperti rifampisin, salah satu obat yang digunakan dalam pengobatan TBC. Meski demikian, pasien tetap perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk memastikan penyebabnya, terutama jika perubahan warna disertai keluhan lain.

Pasien tidak disarankan menghentikan pengobatan atau mengubah dosis obat secara mandiri hanya karena mengalami efek samping. Jika muncul keluhan yang mengkhawatirkan, segera hubungi dokter atau petugas kesehatan.

Pengobatan TBC sensitif obat umumnya berlangsung selama enam bulan, meskipun durasi dan regimen dapat berbeda sesuai kondisi pasien serta keputusan dokter. Pengobatan biasanya terdiri atas fase awal dan fase lanjutan yang harus dijalani sesuai jadwal.

Menghentikan pengobatan sebelum waktunya dapat meningkatkan risiko penyakit tidak sembuh tuntas, kambuh, atau berkembang menjadi kebal terhadap obat.

Batuk Dua Minggu Jangan Diabaikan

TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini terutama menyerang paru-paru dan dapat menular melalui udara ketika penderita TBC paru menular batuk, bersin, atau berbicara.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan, demam, berkeringat pada malam hari, nafsu makan menurun, serta berat badan turun tanpa sebab yang jelas.

Masyarakat yang mengalami batuk selama dua minggu atau lebih, terutama jika disertai gejala lain, dianjurkan segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan. Pemeriksaan dapat membantu memastikan diagnosis dan menentukan pengobatan yang tepat.

Pasien TBC juga perlu mengikuti arahan tenaga kesehatan mengenai pencegahan penularan, termasuk penggunaan masker dan penerapan etika batuk selama masa pengobatan sesuai kondisi klinisnya.

Dengan deteksi dini, pengobatan yang tepat, serta kepatuhan minum obat hingga tuntas, TBC dapat disembuhkan. Dukungan keluarga dan lingkungan juga penting agar pasien tidak mengalami stigma dan dapat menjalani pemulihan dengan baik.

Sumber: IG KEMENKES

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment