Sahabat.com - Cita rasa kuliner Indonesia ternyata bisa dinikmati hingga Guangzhou, Provinsi Guangdong, China. Black Sand Resto, restoran yang berada di Distrik Tianhe, menyajikan beragam masakan autentik Indonesia, termasuk soto ayam yang menjadi salah satu menu andalannya.
Restoran tersebut didirikan pada 2024 oleh Wiknjo Soetikno bersama istrinya, Guo Zhengting, yang merupakan warga asli Guangzhou. Kehadiran restoran ini tidak hanya ditujukan untuk mengobati kerinduan warga Indonesia terhadap masakan kampung halaman, tetapi juga memperkenalkan kekayaan kuliner Nusantara kepada masyarakat China.
Wiknjo mengatakan, soto ayam memiliki makna tersendiri bagi banyak orang Indonesia karena mengingatkan mereka pada masakan rumah.
"Bagi orang Indonesia, soto ayam selalu mengingatkan mereka pada masakan rumah," kata Wiknjo dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis.
Berawal dari Latar Belakang Keluarga dan Perjalanan ke China
Wiknjo berasal dari keluarga keturunan Tionghoa asal Fuqing, Provinsi Fujian. Keluarganya memiliki akar budaya Indonesia setelah leluhurnya merantau ke Asia Tenggara dan menetap di Malang, Jawa Timur.
Perjalanan Wiknjo ke Guangzhou dimulai pada 1997. Saat masih berusia belasan tahun, ia pergi ke kota tersebut untuk mempelajari bahasa Mandarin di Fakultas Bahasa dan Budaya Tionghoa, Universitas Jinan.
Di Guangzhou, ia bertemu dengan Guo Zhengting, yang kemudian menjadi istrinya. Pengalaman hidup di tengah dua latar budaya turut menjadi bagian dari perjalanan Wiknjo hingga akhirnya mendirikan restoran Indonesia di kota tersebut.
Melalui Black Sand Resto, pasangan ini berupaya menghadirkan hidangan khas Indonesia yang dapat dinikmati masyarakat Indonesia maupun warga lokal China.
Soto Ayam Jadi Pengobat Rindu Masakan Indonesia
Salah satu menu yang menjadi daya tarik Black Sand Resto adalah soto ayam. Hidangan berkuah dengan racikan rempah khas Indonesia ini dikenal luas sebagai makanan rumahan yang akrab di berbagai daerah Nusantara.
Bagi warga Indonesia yang tinggal jauh dari Tanah Air, kehadiran soto ayam dapat menjadi cara sederhana untuk melepas kerinduan terhadap makanan khas kampung halaman.
Black Sand Resto pun menjadi salah satu pilihan bagi warga Indonesia di Guangzhou yang ingin menikmati masakan Nusantara. Restoran tersebut juga disebut mendapat pengakuan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Guangzhou dan pernah menjadi tempat jamuan bagi para tamu penting.
Ajil Ditto Puji Rasa Soto Ayam di Guangzhou
Cita rasa soto ayam Black Sand Resto turut dirasakan aktor sekaligus influencer Indonesia, Ajil Ditto, yang berkunjung ke restoran tersebut saat berlibur di Guangdong.
Setelah mencicipinya, Ajil menilai rasa soto ayam yang disajikan tidak jauh berbeda dari hidangan yang biasa ia santap di Indonesia.
"Enak banget! Rasanya sama enaknya dengan soto ayam yang biasa saya makan di Indonesia," ujar Ajil.
Komentar tersebut menunjukkan bagaimana cita rasa khas Indonesia dapat tetap terasa akrab meski disajikan di luar negeri.
Sup Ayam Guangdong Hadirkan Pengalaman Kuliner Berbeda
Selain mencicipi soto ayam, Ajil juga mendapat kesempatan menikmati sup ayam khas Guangdong yang disajikan oleh Guo Zhengting.
Menurut Ajil, sup ayam tersebut memiliki cita rasa gurih dengan sedikit sentuhan manis. Karakter rasanya berbeda dari sup ayam yang biasa ia temui di Indonesia, tetapi tetap memberikan pengalaman kuliner yang menarik.
"Rasanya gurih, sedikit manis. Memang berbeda dengan sup ayam di Indonesia, tapi keduanya sama-sama enak," kata Ajil.
Perbedaan tersebut memperlihatkan karakter kuliner kedua wilayah. Masakan Indonesia dikenal dengan penggunaan beragam rempah dan bumbu, sedangkan sejumlah hidangan sup khas Guangdong menonjolkan rasa alami bahan dan kaldu yang kaya.
Kuliner Jadi Jembatan Budaya Indonesia dan China
Kehadiran Black Sand Resto memperlihatkan bahwa makanan tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya suatu negara.
Melalui soto ayam dan berbagai masakan Indonesia lainnya, warga Guangzhou memiliki kesempatan untuk mengenal cita rasa Nusantara. Sebaliknya, pengunjung asal Indonesia juga dapat mencicipi hidangan lokal Guangdong dalam satu pengalaman bersantap.
Perpaduan dua tradisi kuliner tersebut menjadi gambaran bagaimana makanan dapat mempertemukan orang-orang dari latar belakang budaya berbeda.
Bagi warga Indonesia di Guangzhou, Black Sand Resto menawarkan kesempatan menikmati masakan yang mengingatkan pada rumah. Sementara bagi masyarakat setempat, restoran ini menjadi salah satu pintu untuk mengenal kekayaan kuliner Indonesia tanpa harus berkunjung langsung ke Tanah Air.
Sumber: ANTARA
0 Komentar
Di Balik Nikmatnya Sup Durian, Perpaduan Daging Buah Legit dan Kuah Manis yang Menggugah Selera
Leave a comment