Heboh! Susu Formula Bayi Ditarik dari Pasaran karena Risiko Toksin Berbahaya

06 Mei 2026 16:55
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Ilustrasi susu formula bayi dalam kemasan kaleng dengan sendok takar.

Sahabat.com - Kabar mengejutkan datang dari dunia kesehatan anak. Sebuah produk susu formula bayi yang beredar luas di Amerika Serikat resmi ditarik dari pasaran setelah ditemukan potensi kandungan toksin berbahaya. Produk a2 Platinum Premium untuk bayi usia 0–12 bulan ini diketahui mengandung cereulide, racun tahan panas yang bisa memicu gangguan pencernaan serius, terutama pada bayi yang sistem tubuhnya masih rentan.

Penarikan ini dilakukan secara sukarela oleh produsennya setelah melalui pengujian tambahan yang mengikuti pedoman terbaru dari otoritas keamanan pangan Selandia Baru. Meski izin impor produk tersebut telah berakhir sejak akhir 2025, lebih dari 16 ribu unit sudah sempat terjual melalui situs resmi, platform online, hingga toko retail.

Gejala akibat paparan cereulide biasanya muncul dalam waktu 30 menit hingga enam jam setelah dikonsumsi, seperti mual dan muntah. Pada orang dewasa, kondisi ini bisa mereda dalam sehari. Namun pada bayi, risikonya jauh lebih serius karena dapat menyebabkan dehidrasi hingga membutuhkan penanganan medis. Pihak perusahaan menyatakan, “Jika bayi menunjukkan gejala yang mengarah pada paparan toksin ini, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk penanganan lebih lanjut.”

Hingga saat ini, belum ada laporan resmi terkait kasus penyakit akibat produk tersebut. Meski begitu, orang tua diminta untuk tetap waspada. Jika memiliki produk dengan nomor batch tertentu, disarankan untuk segera menghentikan penggunaan, membuangnya, atau mengembalikannya ke tempat pembelian untuk mendapatkan pengembalian dana.

Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa keamanan pangan, terutama untuk bayi, tidak boleh dianggap remeh. Orang tua diimbau untuk selalu memeriksa label, tanggal kedaluwarsa, serta informasi resmi terkait produk yang dikonsumsi si kecil. Dalam era digital seperti sekarang, informasi cepat menyebar, tapi memastikan kebenarannya tetap jadi kunci utama demi kesehatan keluarga.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment