Nikmat tapi Berisiko! Ini Bahaya Terlalu Sering Makan Gorengan bagi Kesehatan

17 Oktober 2026 08:34
Penulis: Beno Junianto, lifestyle
bakwan goreng

Sahabat.com - Gorengan menjadi salah satu camilan favorit masyarakat Indonesia. Mulai dari bakwan, tahu isi, tempe goreng, pisang goreng, hingga cireng, makanan ini mudah ditemukan di pinggir jalan dan kerap menjadi teman minum teh atau kopi. Rasanya yang gurih, teksturnya yang renyah, serta harganya yang terjangkau membuat gorengan sulit ditolak.

Namun, di balik kenikmatannya, konsumsi gorengan secara berlebihan, terutama yang diolah dengan minyak dalam jumlah banyak atau menggunakan minyak berulang kali, dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan.

Lantas, apa saja bahaya terlalu sering mengonsumsi gorengan?

1. Meningkatkan Risiko Kolesterol Tinggi

Gorengan umumnya mengandung lemak yang cukup tinggi, bergantung pada bahan dan cara pengolahannya. Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh secara berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat dalam darah.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, kadar LDL yang tinggi dapat memicu penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Karena itu, penting untuk membatasi konsumsi gorengan dan memilih makanan dengan kandungan lemak yang lebih sehat.

2. Memicu Kenaikan Berat Badan

Proses penggorengan membuat makanan menyerap minyak sehingga kandungan kalorinya meningkat. Apabila gorengan dikonsumsi terlalu sering tanpa diimbangi aktivitas fisik dan pola makan seimbang, asupan kalori harian dapat melebihi kebutuhan tubuh.

Kelebihan kalori yang terjadi terus-menerus dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko obesitas.

Untuk menjaga berat badan, konsumsilah gorengan dalam porsi wajar serta perbanyak makanan yang kaya serat, seperti sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian utuh.

3. Berpotensi Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

Kebiasaan mengonsumsi makanan yang digoreng secara berlebihan, terutama jika tinggi lemak jenuh atau lemak trans, dapat berdampak buruk terhadap kesehatan jantung.

Risiko semakin besar apabila kebiasaan tersebut disertai pola makan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, merokok, atau faktor risiko lainnya.

Untuk menjaga kesehatan jantung, masyarakat disarankan membatasi makanan yang digoreng dan menggantinya dengan pilihan yang diolah melalui metode kukus, rebus, panggang, atau menggunakan sedikit minyak.

4. Dapat Mengganggu Kesehatan Pencernaan

Makanan tinggi lemak membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna. Pada sebagian orang, mengonsumsi gorengan dalam jumlah banyak dapat memicu rasa begah, kembung, mual, atau ketidaknyamanan pada perut.

Gorengan juga dapat memperburuk gejala refluks asam lambung atau GERD pada orang yang sensitif terhadap makanan berlemak.

Jika sering mengalami keluhan setelah makan gorengan, cobalah mengurangi porsinya dan memperhatikan makanan yang memicu gejala.

5. Risiko Paparan Senyawa Berbahaya dari Minyak Berulang Kali

Penggunaan minyak goreng berulang kali, terutama pada suhu tinggi, dapat menyebabkan minyak mengalami kerusakan oksidatif dan menghasilkan berbagai senyawa hasil degradasi.

Kondisi minyak yang sudah rusak dapat ditandai dengan warna semakin gelap, bau tengik, lebih kental, atau munculnya asap pada suhu yang lebih rendah.

Selain itu, makanan bertepung yang digoreng hingga sangat kecokelatan atau gosong dapat mengandung akrilamida, senyawa yang terbentuk selama proses pemanasan suhu tinggi. Paparan akrilamida dalam jumlah tinggi terbukti berbahaya dalam penelitian pada hewan, sedangkan dampaknya terhadap risiko kanker pada manusia masih terus diteliti.

Oleh sebab itu, sebaiknya hindari gorengan yang terlalu gosong dan pilih penjual yang menjaga kebersihan serta menggunakan minyak dalam kondisi baik.

6. Berpotensi Meningkatkan Risiko Diabetes Tipe 2

Konsumsi gorengan secara rutin dalam pola makan yang tidak sehat dapat berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Hal ini dapat dipengaruhi oleh asupan kalori berlebih, kenaikan berat badan, serta kualitas lemak yang dikonsumsi.

Meski demikian, bukan berarti satu kali makan gorengan langsung menyebabkan diabetes. Risiko penyakit ini dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, berat badan, usia, dan faktor genetik.

Menjaga berat badan ideal, aktif bergerak, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang merupakan langkah penting untuk membantu mengurangi risiko diabetes.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment