Sahabat.com - Kalau biasanya obat diabetes hanya dikaitkan dengan gula darah, kali ini ada kabar menarik yang mungkin bisa bikin kamu terkejut.
Para peneliti dari Northwestern Medicine menemukan bahwa obat yang umum dipakai untuk diabetes tipe 2 bisa jadi alternatif pengobatan buat kondisi otak bernama normal pressure hydrocephalus—tanpa perlu operasi invasif seperti biasanya!
Jadi gini, hydrocephalus adalah kondisi di mana cairan otak, alias cerebrospinal fluid, menumpuk dan menekan otak. Biasanya ini menyerang orang yang sudah berusia di atas 65 tahun.
Gejalanya bisa bikin seseorang susah berjalan, menurunnya kemampuan berpikir, dan masalah kandung kemih. Cara pengobatan yang umum? Operasi pemasangan shunt (semacam selang kecil) di kepala untuk mengalirkan cairan ke perut. Nah, meski efektif, prosedur ini tetap aja berisiko karena melibatkan pembedahan otak.
Tapi, Dr. Stephen Magill, seorang profesor bedah saraf di Northwestern, bilang bahwa obat golongan SGLT2 inhibitor—yang biasa dipakai oleh penderita diabetes tipe 2—ternyata punya efek samping yang cukup mengejutkan.
“Obat ini bekerja dengan menghambat reseptor di ginjal. Tapi ternyata, reseptor itu juga ada di choroid plexus otak, yang tugasnya bikin cairan otak. Jadi ini bisa mengurangi produksi cairan otak,” katanya.
Magill pertama kali menyadari ini saat melihat satu pasien hydrocephalus yang sudah menjalani operasi shunt lalu mulai minum SGLT2 inhibitor untuk diabetesnya. Hasilnya?
Ukuran rongga otaknya menyusut. Karena penasaran, timnya pun mempelajari lebih lanjut tiga pasien hydrocephalus yang juga minum obat ini. Semua pasien ternyata menunjukkan perubahan struktur otak dan penurunan ukuran rongga otak setelah minum obat tersebut.
Salah satu pasien bahkan sampai harus disesuaikan katup shunt-nya karena cairan otaknya terlalu cepat berkurang!
“Ini menarik banget secara klinis karena bisa jadi solusi baru tanpa harus operasi,” kata Magill.
Penemuan ini membuka kemungkinan riset baru soal bagaimana obat diabetes bisa digunakan untuk mencegah atau mengobati hydrocephalus. Tim Magill sekarang sedang meneliti model tikus tanpa gen SGLT2 untuk memahami lebih dalam bagaimana obat ini bisa mengubah dinamika cairan otak.
Harapannya, hasil dari riset ini bisa dipakai buat bikin strategi pengobatan baru bukan cuma untuk normal pressure hydrocephalus, tapi juga untuk post-traumatic hydrocephalus—yaitu penumpukan cairan otak setelah cedera kepala.
“Ini bisa jadi cara baru menyelamatkan pasien dari risiko operasi, dan juga membuka pemahaman baru soal bagaimana protein ini bekerja dalam proses produksi cairan otak,” tambah Magill.
Siapa sangka, obat diabetes ternyata menyimpan potensi besar buat kondisi otak yang serius. Yuk, kita tunggu kabar baik selanjutnya dari riset ini!
0 Komentar
Masih Perkasa di Atas 50? Rahasia Kehidupan Intim Pria Tetap Bergairah
Telat Haid di Usia 40-an? Jangan Panik! Ini Cara Bedakan Gejala Menopause dan Hamil
Sayuran Aneh Ini Ternyata Rahasia Sehat Usus, Kaya Prebiotik dan Bikin Kenyang Lebih Lama!
Tekanan Darah Tinggi Bisa Turun Alami, Ini Daftar Makanan Sehari-hari yang Direkomendasikan Ahli
Minum Vitamin Ini Disebut Bisa Bikin Umur Lebih Panjang, Benarkah?
Rutin Minum Kopi atau Teh Bisa Cegah Demensia? Ini Temuan Peneliti yang Bikin Lega
Dokter Ungkap Trik Simpel Turunkan Gula Darah Secara Alami, Bisa Langsung Dicoba di Rumah
Tanpa Disadari, 4 Makanan Sehari-hari Ini Bisa Merusak Kesehatan Ususmu
Leave a comment