Sahabat.com - Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan fenomena yang semakin berkembang di kalangan remaja, di mana mereka mendiagnosis kondisi kesehatan mental mereka sendiri setelah terpapar konten di TikTok. Penelitian ini, yang diterbitkan dalam Educational Psychology in Practice, menyoroti faktor psikologis seperti identitas dan kepemilikan yang berperan dalam tren ini.
Sejak 2021, TikTok, platform media sosial dengan 1,7 miliar pengguna, menjadi sorotan karena banyak remaja menggunakan kontennya untuk melakukan diagnosis mandiri. Praktik ini mengacu pada proses di mana individu mengidentifikasi kondisi kesehatan mental tanpa bantuan profesional.
Para peneliti menemukan bahwa konten di TikTok, terutama yang terkait dengan gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD) dan autisme, memiliki dampak signifikan terhadap diagnosis diri. Algoritme yang digunakan oleh platform ini mempersonalisasi konten, menciptakan ruang gema yang dapat memperkuat keyakinan pengguna melalui bias konfirmasi.
Namun, keakuratan konten mengenai kesehatan mental di media sosial sangat bervariasi. Banyak video yang menyebarkan informasi salah, yang dapat menyesatkan pengguna dan meromantisasi neurodiversitas, sehingga mengabaikan tantangan nyata yang dihadapi individu.
Penelitian ini juga menyoroti hambatan sistemik yang menghalangi akses remaja ke dukungan kesehatan mental yang tepat. Di Inggris, misalnya, daftar tunggu untuk diagnosis ADHD dan autisme dapat mencapai dua tahun. Di Amerika Serikat, anak-anak kulit hitam sering kali menerima diagnosis yang salah, sementara anak perempuan lebih lambat didiagnosis dibandingkan anak laki-laki.
Selain itu, remaja sering kali merasa tidak percaya terhadap layanan kesehatan dan takut akan stigma, yang dapat menghalangi mereka untuk mencari bantuan. Para peneliti menekankan perlunya kehadiran lebih banyak profesional terakreditasi di platform media sosial untuk melawan misinformasi dan memberikan dukungan yang diperlukan bagi kaum muda.
Dengan meningkatnya penerimaan dan kesadaran terhadap masalah kesehatan mental, penelitian ini menggarisbawahi pentingnya memahami faktor-faktor yang mendorong diagnosis mandiri di kalangan remaja dan kebutuhan akan penelitian lebih lanjut yang melibatkan perspektif remaja, orang tua, dan tenaga pendidik.
0 Komentar
Liburan Berujung Duka, Penumpang Lansia Meninggal Usai Naik Roller Coaster Universal Orlando
Usia 35 Jadi Titik Balik Tubuh Melemah? Studi 50 Tahun Ini Bikin Kaget
Legenda Fashion Valentino Garavani Tutup Usia, Ikon Gaun Merah yang Dicintai Dunia Glamour
Awet Kencang di Usia 68! Denise Austin Bongkar 3 Gerakan Simpel Bikin Lengan Seksi
Bangun Pagi Terlalu Dini Bisa Bahayakan Kesehatan, Dokter Ingatkan
Makeup Kedaluwarsa Diam-Diam Bikin Wajah Rusak, Ini Cara Simpel Beresin dan Menyimpannya
Kim Kardashian Buka 2026 dengan Gaya Ekstrem di Aspen, Korset Bulu hingga Mantel Super Dramatis
Tren Makeup 2026 Berubah Total: Clean Girl Ditinggal, Tampilan Bold Kini Jadi Favorit
Camila Mendes Bikin Heboh Lagi, Ganti Warna Rambut Honey Brown dan Disebut Balik Jadi Diri Sendiri
Leave a comment