Sahabat.com - Asam lambung merupakan zat alami yang berperan penting dalam proses pencernaan makanan. Namun, ketika isi lambung naik kembali ke kerongkongan atau terjadi gangguan produksi asam lambung, kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai keluhan kesehatan yang perlu diperhatikan.
Gejala seperti nyeri ulu hati, perut kembung, mual, hingga sensasi panas di dada kerap dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, jika keluhan terus berulang dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat, gangguan asam lambung dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.
Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah gastroesophageal reflux disease (GERD), yaitu penyakit ketika isi lambung berulang kali naik ke kerongkongan dan menyebabkan iritasi.
Lantas, apa saja bahaya asam lambung jika dibiarkan terus-menerus?
1. Nyeri Ulu Hati yang Mengganggu Aktivitas
Nyeri ulu hati atau heartburn merupakan salah satu keluhan yang sering dialami penderita refluks asam lambung. Gejalanya berupa sensasi panas atau perih di dada, terutama setelah makan, saat membungkuk, atau ketika berbaring.
Jika keluhan hanya terjadi sesekali, penyebabnya bisa beragam. Namun, nyeri ulu hati yang sering kambuh, mengganggu tidur, atau menghambat aktivitas sehari-hari perlu diperiksakan ke dokter.
Perlu diingat, nyeri dada tidak selalu disebabkan oleh asam lambung. Jika nyeri terasa berat atau disertai sesak napas, keringat dingin, maupun nyeri yang menjalar ke lengan, rahang, atau punggung, segera cari pertolongan medis karena bisa menandakan masalah jantung.
2. GERD yang Berulang dan Berkepanjangan
GERD merupakan gangguan pencernaan kronis yang terjadi ketika isi lambung berulang kali mengalir kembali ke kerongkongan. Kondisi ini dapat menimbulkan sensasi terbakar di dada, rasa asam atau pahit di mulut, regurgitasi, hingga batuk yang mengganggu.
Jika tidak ditangani dengan baik, paparan isi lambung yang berulang dapat merusak lapisan kerongkongan dan memicu komplikasi.
Penanganan GERD dapat meliputi perubahan pola makan, penyesuaian kebiasaan sehari-hari, serta penggunaan obat sesuai anjuran dokter. Tidak semua penderita perlu menjalani tindakan operasi karena pengobatan disesuaikan dengan tingkat keparahan dan respons pasien.
3. Kerusakan Lapisan Gigi
Asam lambung yang naik hingga ke mulut dapat mengikis enamel atau lapisan terluar gigi. Jika terjadi berulang kali, kondisi ini berpotensi membuat gigi lebih sensitif, berubah warna, dan lebih rentan mengalami kerusakan.
Kerusakan akibat paparan asam terkadang tidak langsung disadari karena dapat berkembang secara bertahap.
Karena itu, penderita refluks asam lambung yang sering merasakan cairan asam sampai ke mulut sebaiknya menjaga kebersihan gigi dan memeriksakan kondisi gigi secara berkala.
4. Peradangan pada Kerongkongan
Paparan asam lambung yang berulang dapat menyebabkan peradangan pada lapisan kerongkongan, yang dikenal sebagai esofagitis.
Kondisi ini dapat menimbulkan nyeri saat menelan, rasa tidak nyaman di dada, atau sensasi seperti makanan tersangkut. Pada kasus tertentu, peradangan yang berat dapat menyebabkan luka dan perdarahan.
Jika kerusakan berlangsung lama, jaringan parut juga dapat terbentuk dan menyebabkan penyempitan kerongkongan sehingga penderita mengalami kesulitan menelan.
Oleh sebab itu, keluhan sulit menelan atau nyeri saat menelan tidak boleh dianggap sepele.
5. Esofagus Barrett, Komplikasi yang Perlu Diwaspadai
Pada sebagian orang dengan GERD kronis, perubahan jaringan pada bagian bawah kerongkongan dapat terjadi akibat paparan isi lambung dalam jangka panjang. Kondisi ini disebut esofagus Barrett.
Esofagus Barrett bukan kanker, tetapi perubahan jaringan tersebut dapat meningkatkan risiko kanker kerongkongan jenis adenokarsinoma.
Meski demikian, tidak semua penderita GERD akan mengalami komplikasi ini. Pemeriksaan lebih lanjut dapat diperlukan pada pasien tertentu berdasarkan gejala dan faktor risikonya.
Jika asam lambung sering kambuh selama bertahun-tahun, terutama disertai kesulitan menelan atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, segera konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter.
6. Gangguan Pernapasan pada Kondisi Tertentu
Pada sebagian penderita, refluks asam lambung dapat berkaitan dengan batuk kronis, suara serak, atau memburuknya gejala asma. Hal ini dapat terjadi ketika refluks mengiritasi saluran pernapasan atau, dalam kondisi tertentu, isi lambung masuk ke saluran napas.
Namun, gejala pernapasan tidak selalu disebabkan oleh asam lambung. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai.
Jika mengalami sesak napas berat, segera cari pertolongan medis.
Cara Mencegah Asam Lambung Sering Kambuh
Selain mengenali komplikasinya, perubahan kebiasaan sehari-hari dapat membantu mengurangi gejala refluks asam lambung.
Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:
Makan secara teratur: Hindari makan dalam porsi terlalu besar sekaligus. Sesuaikan porsi makan agar tidak menimbulkan rasa terlalu kenyang.
Jangan langsung berbaring setelah makan: Beri jarak sekitar dua hingga tiga jam sebelum berbaring atau tidur.
Kenali makanan pemicu: Makanan pedas, berlemak, kopi, cokelat, atau makanan asam dapat memicu gejala pada sebagian orang. Hindari pemicu yang terbukti memperburuk keluhan pribadi.
Jaga berat badan ideal: Berat badan berlebih dapat meningkatkan risiko refluks pada sebagian orang.
Hindari rokok dan batasi alkohol: Keduanya dapat memperburuk gejala pada sebagian penderita.
Konsultasikan penggunaan obat: Jika gejala sering berulang, mintalah saran dokter atau apoteker sebelum menggunakan obat asam lambung secara rutin.
Sumber: Alo Dokter dan Kemenkes
0 Komentar
Sering Dianggap Biasa, Jangan Sepelekan Asam Lambung
Usia 40 Tahun ke Atas, Ini Waktu Terbaik untuk Jogging
Leave a comment