Sahabat.com - Kurang tidur menjadi kebiasaan yang kerap dialami banyak orang, terutama mereka yang memiliki aktivitas padat, pekerjaan menumpuk, atau terlalu lama menggunakan ponsel pada malam hari. Padahal, tidur merupakan kebutuhan penting yang membantu tubuh memulihkan energi sekaligus menjaga fungsi otak dan organ tubuh.
Jika dilakukan sesekali, kurang tidur mungkin hanya membuat tubuh terasa lelah dan mengantuk keesokan harinya. Namun, jika berlangsung terus-menerus atau menjadi kebiasaan, kurang tidur dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, baik secara fisik maupun mental.
Orang dewasa umumnya membutuhkan waktu tidur sekitar 7–9 jam setiap malam agar tubuh mendapatkan istirahat yang cukup. Kebutuhan ini dapat berbeda sesuai usia dan kondisi individu.
Lantas, apa saja bahaya kurang tidur jika sering begadang? Berikut penjelasannya.
1. Menurunkan Konsentrasi dan Daya Ingat
Salah satu dampak kurang tidur yang paling cepat dirasakan adalah menurunnya kemampuan berkonsentrasi. Ketika tubuh tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup, otak akan lebih sulit memproses informasi, mempertahankan perhatian, dan mengambil keputusan.
Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, mulai dari belajar, bekerja, hingga berkendara.
Kurang tidur juga dapat memengaruhi proses pembentukan dan penguatan ingatan. Akibatnya, seseorang mungkin lebih mudah lupa, sulit memahami informasi baru, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan.
2. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung dan Tekanan Darah Tinggi
Kebiasaan tidur terlalu sedikit dalam jangka panjang berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke.
Saat tidur, tubuh menjalankan berbagai proses pemulihan, termasuk mengatur tekanan darah dan mendukung kesehatan pembuluh darah. Jika waktu tidur terus-menerus tidak mencukupi, proses tersebut dapat terganggu.
Karena itu, menjaga jadwal tidur yang teratur menjadi salah satu bagian penting dalam menerapkan pola hidup sehat, selain mengonsumsi makanan bergizi dan melakukan aktivitas fisik.
3. Meningkatkan Risiko Diabetes dan Gangguan Metabolisme
Kurang tidur kronis dapat memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang serta mengganggu kemampuan tubuh dalam mengelola gula darah.
Akibatnya, sebagian orang menjadi lebih mudah merasa lapar, menginginkan makanan tinggi kalori, dan mengalami perubahan pola makan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko gangguan metabolisme, termasuk diabetes tipe 2.
Meski demikian, kurang tidur bukan satu-satunya penyebab diabetes. Risiko penyakit ini juga dipengaruhi faktor genetik, pola makan, aktivitas fisik, berat badan, dan kondisi kesehatan lainnya.
4. Memicu Gangguan Suasana Hati dan Kesehatan Mental
Tidur memiliki hubungan erat dengan kesehatan mental. Ketika seseorang sering begadang, kemampuan mengatur emosi dapat terganggu sehingga lebih mudah merasa kesal, sensitif, cemas, atau mengalami perubahan suasana hati.
Jika berlangsung dalam jangka panjang, masalah tidur juga berkaitan dengan peningkatan risiko gejala depresi dan kecemasan.
Sebaliknya, stres dan gangguan kesehatan mental juga dapat menyebabkan seseorang sulit tidur. Oleh karena itu, menjaga pola tidur dan memperhatikan kesehatan mental perlu dilakukan secara bersamaan.
Jika kesulitan tidur atau perubahan suasana hati terus berlanjut hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
5. Menurunkan Daya Tahan Tubuh
Tidur membantu sistem kekebalan tubuh bekerja secara optimal. Saat beristirahat, tubuh menjalankan proses yang mendukung respons imun untuk melawan infeksi.
Kurang tidur dapat mengganggu proses tersebut sehingga tubuh berpotensi lebih rentan terhadap penyakit infeksi, termasuk pilek dan infeksi saluran pernapasan.
Tidur yang cukup tidak menjamin seseorang terbebas dari penyakit, tetapi dapat membantu mendukung fungsi kekebalan tubuh bersama pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup sehat lainnya.
6. Meningkatkan Risiko Kecelakaan
Rasa kantuk akibat kurang tidur bukan sekadar masalah kenyamanan. Kondisi ini dapat memperlambat waktu reaksi, mengurangi kewaspadaan, dan menyebabkan seseorang mengalami microsleep atau tertidur selama beberapa detik tanpa disadari.
Situasi tersebut sangat berbahaya ketika seseorang sedang mengemudi, mengoperasikan mesin, atau melakukan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Jika merasa sangat mengantuk, jangan memaksakan diri untuk berkendara. Berhenti di tempat yang aman dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
7. Memengaruhi Berat Badan dan Kesehatan Tubuh Secara Keseluruhan
Kurang tidur dapat memengaruhi keseimbangan hormon yang berkaitan dengan nafsu makan, meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan tinggi gula atau lemak, serta membuat seseorang kurang berenergi untuk beraktivitas fisik.
Kombinasi kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan jika berlangsung terus-menerus.
Selain itu, kurang tidur dapat membuat tubuh terasa lemas, mengurangi produktivitas, dan memperlambat pemulihan setelah beraktivitas atau berolahraga.
Dengan menjaga waktu tidur, tubuh memiliki kesempatan lebih baik untuk memulihkan energi dan menjalankan fungsi normalnya.
Berapa Lama Waktu Tidur yang Ideal?
Kebutuhan tidur berbeda-beda menurut kelompok usia. Secara umum, rekomendasinya adalah:
Remaja usia 13–17 tahun: sekitar 8–10 jam per hari.
Orang dewasa usia 18–60 tahun: minimal 7 jam per malam; banyak orang dewasa membutuhkan sekitar 7–9 jam.
Lansia usia 65 tahun ke atas: umumnya sekitar 7–8 jam per malam.
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Badung
0 Komentar
Ini 7 Bahaya Kurang Tidur bagi Kesehatan Fisik dan Mental
Sering Dianggap Biasa, Jangan Sepelekan Asam Lambung
Usia 40 Tahun ke Atas, Ini Waktu Terbaik untuk Jogging
Leave a comment