Kehamilan Dapat Mengurangi Risiko Long COVID, Temuan Penelitian Terbaru

02 April 2025 13:59
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Long COVID didefinisikan dengan gejala seperti masalah kognitif, encephalopathy, gangguan tidur, faringitis akut, sesak napas, fibrosis paru, nyeri dada, diabetes, edema, malnutrisi, nyeri sendi, demam, kelelahan, dan malaise.

Sahabat.com - Penelitian yang dipimpin oleh Weill Cornell Medicine, University of Rochester Medical Center, University of Utah Health, dan Louisiana Public Health Institute mengungkapkan bahwa kehamilan mungkin dapat memberikan perlindungan terhadap risiko mengembangkan long COVID. 

Penelitian ini dipublikasikan pada 1 April di Nature Communications, dan mengisi kekosongan penting terkait long COVID pada wanita yang terinfeksi SARS-CoV-2 selama kehamilan.

Sebelumnya, banyak penelitian berfokus pada orang dewasa yang tidak hamil yang terdampak long COVID, yaitu kondisi yang berlangsung berbulan-bulan setelah seseorang sembuh dari infeksi SARS-CoV-2. Namun, penelitian terbaru ini menawarkan wawasan baru terkait risiko long COVID pada wanita hamil.

Dr. Chengxi Zang, seorang instruktur di bidang ilmu kesehatan populasi di Weill Cornell Medicine yang turut memimpin penelitian ini, menjelaskan, "Populasi ini sangat penting dan rentan, tetapi sebelumnya kami tidak memiliki bukti mengenai risiko long COVID pada mereka untuk membantu menentukan perawatan yang tepat." 

Penelitian ini diharapkan dapat membantu dokter dalam mengembangkan strategi pencegahan dan pengobatan long COVID yang lebih baik untuk wanita hamil.

Penelitian Berdasarkan Data Dunia Nyata

Para peneliti menganalisis data dunia nyata yang dikumpulkan dalam dua studi besar berbasis catatan kesehatan elektronik, yaitu National Patient-Centered Clinical Research Network (PCORnet) dan National COVID Cohort Collaborative (N3C), yang berada di bawah inisiatif RECOVER dari National Institutes of Health. 

Mereka memeriksa data sekitar 72.000 wanita yang terinfeksi SARS-CoV-2 selama kehamilan antara Maret 2020 dan Juni 2023, serta sekitar 208.000 kontrol yang tidak hamil tetapi terinfeksi selama periode yang sama.

Peneliti menganalisis tanda-tanda long COVID 180 hari setelah wanita tersebut sembuh dari infeksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat komplikasi jangka panjang akibat COVID-19 lebih rendah pada wanita hamil dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil tetapi memiliki karakteristik yang serupa. 

Temuan ini konsisten di kedua basis data besar dan tetap berlaku meskipun peneliti menggunakan metode yang berbeda untuk mendefinisikan long COVID.

Dalam kelompok PCORnet, Dr. Zang dan rekan-rekannya menemukan bahwa sekitar 16 dari 100 wanita hamil mengembangkan long COVID, dibandingkan dengan sekitar 19 dari 100 wanita yang tidak hamil. 

Long COVID didefinisikan dengan gejala seperti masalah kognitif, encephalopathy, gangguan tidur, faringitis akut, sesak napas, fibrosis paru, nyeri dada, diabetes, edema, malnutrisi, nyeri sendi, demam, kelelahan, dan malaise.

Kelompok dengan Risiko Lebih Tinggi

Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa beberapa kelompok wanita hamil memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan long COVID. Wanita hamil yang berkulit hitam, memiliki usia kehamilan lanjut (usia 35 tahun atau lebih), atau mengalami obesitas dan kondisi metabolik lainnya, lebih mungkin mengembangkan long COVID dibandingkan dengan wanita hamil yang tidak termasuk dalam kelompok-kelompok tersebut. Meskipun demikian, risiko ini tetap lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak hamil.

"Penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor seperti akses layanan kesehatan yang tidak setara, faktor sosial ekonomi, dan rasisme struktural dapat membantu kami memahami risiko long COVID yang lebih tinggi pada kelompok-kelompok ini dan menemukan cara untuk melindungi mereka," kata Dr. Zang.

Faktor Imun dan Perubahan Setelah Melahirkan

Dr. Zang juga mengemukakan bahwa perubahan pada lingkungan imun dan inflamasi yang terjadi sekitar enam minggu setelah melahirkan mungkin berkontribusi pada penurunan risiko long COVID pada wanita hamil. 

"Perbedaan risiko yang diamati dalam analisis ini menunjukkan bahwa studi lebih lanjut tentang long COVID pada individu hamil sangat diperlukan," ujar Dr. Zang.

Selain itu, Dr. Zang dan rekan-rekannya di Weill Cornell Medicine juga menggunakan catatan kesehatan elektronik untuk mempelajari bagaimana obat-obatan yang sudah ada dapat digunakan kembali untuk melindungi wanita hamil dari long COVID.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa kehamilan dapat menawarkan perlindungan terhadap risiko long COVID, meskipun ada kelompok wanita hamil yang lebih rentan terhadap komplikasi tersebut. 

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami lebih dalam faktor-faktor yang mempengaruhi risiko ini dan untuk mengembangkan strategi perawatan yang lebih efektif.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment