Menunda Vaksin Hepatitis B pada Bayi Bisa Berujung Fatal, Studi Ungkap Risiko Mengejutkan

30 April 2026 14:41
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Ilustrasi bayi baru lahir yang sedang tidur dan proses pemberian vaksin hepatitis B oleh tenaga medis.

Sahabat.com - Keputusan kecil seperti menunda vaksin pada bayi ternyata bisa membawa dampak besar yang tak terduga. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa penundaan pemberian vaksin hepatitis B pada bayi baru lahir berpotensi meningkatkan angka infeksi secara signifikan, bahkan hingga menyebabkan kematian.

Hepatitis B dikenal sebagai infeksi serius yang menyerang hati dan dapat berkembang menjadi kondisi kronis jika berlangsung lebih dari enam bulan. Dalam tahap ini, risiko komplikasi seperti gagal hati, kanker hati, hingga sirosis meningkat tajam. Penularannya pun tidak hanya melalui hubungan seksual, tetapi juga dapat terjadi saat proses persalinan dari ibu ke bayi.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal medis menyebutkan bahwa bahkan penundaan singkat dalam pemberian vaksin dapat berdampak besar. “Penundaan singkat dalam inisiasi vaksin HepB dikaitkan dengan peningkatan substansial infeksi HBV, hasil kesehatan yang merugikan, dan biaya layanan kesehatan,” tulis para peneliti.

Data yang dianalisis dari lebih dari 3,6 juta bayi menunjukkan bahwa menunda vaksin selama dua bulan saja dapat menyebabkan puluhan infeksi akut dan kronis, serta puluhan kematian, dengan tambahan biaya kesehatan mencapai jutaan dolar. Jika penundaan berlangsung hingga satu tahun, dampaknya menjadi jauh lebih besar, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi.

Fakta lain yang mengkhawatirkan adalah sekitar 90% bayi yang terinfeksi hepatitis B berisiko mengembangkan infeksi kronis. Virus ini juga sangat mudah menular, bahkan melalui jumlah darah yang sangat kecil dan sering kali tidak disadari oleh pembawanya.

Sejak vaksinasi rutin diperkenalkan pada tahun 1991, kasus hepatitis B pada anak-anak sebenarnya hampir berhasil dieliminasi. Namun, perubahan kebijakan yang menghentikan vaksinasi universal saat lahir memicu kekhawatiran di kalangan peneliti.

Salah satu penulis studi, Eric Hall, menyoroti bahwa keputusan tersebut diambil tanpa mempertimbangkan bukti ilmiah secara menyeluruh. “Kami melihat komite tidak memiliki bukti yang cukup untuk mendukung keputusan mereka, namun tetap melanjutkannya,” ujarnya.

Temuan ini menjadi pengingat penting bahwa langkah pencegahan sejak dini, termasuk vaksinasi tepat waktu, memegang peran krusial dalam melindungi generasi mendatang dari ancaman penyakit serius.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment