Liburan Ternyata Bisa Bikin Panjang Umur, Penelitian Ungkap Traveling Baik untuk Otak dan Mental

29 Mei 2026 13:17
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Ilustrasi wisatawan menikmati liburan santai di alam terbuka yang dipercaya membantu menjaga kesehatan fisik dan mental.

Sahabat.com - Siapa sangka kebiasaan traveling ternyata bisa menjadi salah satu rahasia hidup lebih sehat dan panjang umur. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Travel Research mengungkap bahwa perjalanan wisata dapat membantu tubuh menjaga keseimbangan, meningkatkan daya tahan, hingga memperbaiki fungsi tubuh seiring bertambahnya usia.

Bukan hanya soal pergi ke luar negeri atau mengunjungi destinasi populer, pengalaman sederhana seperti menjelajahi kota baru, mencicipi makanan berbeda, hingga bertemu orang baru ternyata memberi dampak besar bagi kesehatan fisik dan mental. Penelitian tersebut menyebut perjalanan mampu menggabungkan berbagai faktor penting untuk healthy aging, mulai dari aktivitas fisik, interaksi sosial, relaksasi, hingga stimulasi otak dalam satu pengalaman sekaligus.

Dokter spesialis longevity dan preventive care, Timothy Duerler, menjelaskan bahwa jenis perjalanan yang tepat dapat membantu tubuh tetap aktif dan seimbang. “Traveling menghadirkan banyak faktor gaya hidup sehat seperti bergerak, koneksi sosial, rasa bahagia, hingga pemulihan stres dalam satu waktu,” ujarnya.

Aktivitas selama liburan seperti berjalan kaki, berenang, mendaki, atau sekadar mengeksplorasi tempat baru tanpa disadari membantu menjaga kesehatan jantung, metabolisme, keseimbangan tubuh, dan kualitas tidur. Selain itu, lebih banyak waktu di luar ruangan juga membuat tubuh mendapatkan paparan sinar matahari alami yang baik untuk ritme sirkadian dan kesehatan mental.

Penelitian ini juga menemukan bahwa traveling dapat membantu menjaga kesehatan otak. Saat berada di lingkungan baru, seseorang akan lebih sering mengambil keputusan, membaca peta, mengenali tempat, hingga beradaptasi dengan situasi berbeda. Aktivitas tersebut dipercaya mampu meningkatkan fungsi kognitif dan menurunkan risiko demensia.

“Semakin sering otak mendapat stimulasi baru, semakin baik daya tahan kognitif seseorang,” kata dokter geriatri Pavitri Dwivedi.

Namun para ahli mengingatkan bahwa manfaat tersebut hanya bisa dirasakan jika perjalanan dilakukan dengan nyaman dan tidak berlebihan. Liburan yang terlalu padat, kurang tidur, penuh tekanan, atau berlebihan dalam konsumsi alkohol justru dapat memberikan efek sebaliknya bagi tubuh.

Karena itu, konsep slow travel atau liburan santai kini semakin diminati. Selain membuat tubuh lebih rileks, perjalanan yang tenang juga membantu seseorang melepaskan stres harian dan kembali merasa terhubung dengan hidupnya.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment