Sahabat.com - Setelah memasuki usia 40 tahun, banyak pria mulai meninggalkan latihan intensitas tinggi seperti sprint karena khawatir cedera. Padahal, menurut fisioterapis Zach Smith, DPT dari HIDEF Physical Therapy, sprint justru bisa menjadi kunci penting untuk menjaga kebugaran tubuh di usia matang—asal dilakukan dengan cara yang benar.
“Waktu paling umum terjadinya cedera adalah ketika seseorang kembali sprint setelah lama tidak melakukannya, tanpa memandang kemampuan mereka sebelumnya. Jika belum rutin sprint, Anda wajib meningkatkan intensitas secara bertahap,” ujar Zach Smith.
Sprint diketahui mampu meningkatkan kesehatan jantung, memperkuat otot, hingga memperbaiki koordinasi tubuh. Namun risiko cedera seperti hamstring atau betis tertarik juga meningkat jika dilakukan secara tiba-tiba tanpa adaptasi.
Untuk memulai, tubuh perlu dipanaskan dengan jogging ringan sekitar 400 meter, diikuti latihan lompat kecil untuk betis serta drill seperti A-skip dan B-skip agar otot siap bekerja maksimal. Setelah itu, lakukan sprint bertahap dari intensitas 40 persen hingga mendekati kecepatan penuh secara perlahan.
Program latihan ideal dilakukan dua kali seminggu dengan jarak sprint pendek sekitar 30 yard. Mulai dengan 5 repetisi, istirahat aktif, lalu ulangi set kedua. Selama 12 minggu, intensitas ditingkatkan perlahan dari 50 persen hingga lebih dari 80 persen.
“Jangan memaksakan diri. Dengarkan tubuh Anda. Jika betis atau hamstring terasa kaku, sebaiknya tunda latihan,” tambah Smith.
Dengan pendekatan yang konsisten dan bertahap, sprint bukan hanya aman untuk pria usia 40+, tetapi juga efektif untuk mengembalikan performa atletik seperti masa muda.
0 Komentar
Nonton Olahraga Ternyata Bisa Bikin Bahagia, Ini Manfaatnya untuk Kesehatan Mental
10 Negara Bagian AS dengan Usia Harapan Hidup Terpendek
Sulit Tidur Setelah Usia 50? Ini 9 Kebiasaan Sederhana yang Bikin Tidur Lebih Nyenyak Menurut Ahli
Tren Morning Flow Viral di TikTok, Cuma 5 Menit Setiap Pagi Bisa Bikin Tubuh Lebih Segar
Leave a comment