Sahabat.com - Rasa lapar yang kita kenal sehari-hari ternyata hanya permulaan dari sebuah perjalanan panjang tubuh menuju kelaparan ekstrem.
Saat asupan makanan berkurang drastis, tubuh akan mulai memakan cadangannya sendiri. Awalnya energi menurun, lalu lemak terkuras, dan pada akhirnya otot ikut tergerus. Jika dibiarkan, organ vital pun mulai gagal berfungsi.
Menurut ahli gizi Ola Anabtawi dan Berta Valente, kelaparan adalah kondisi serius yang memengaruhi tubuh secara bertahap dan bisa berujung pada kematian.
Berdasarkan panduan WHO, orang dewasa rata-rata membutuhkan 2.100 kilokalori per hari untuk bertahan hidup, tergantung usia, jenis kelamin, dan aktivitas fisik.
Energi ini harus seimbang antara karbohidrat, protein, dan lemak, ditambah vitamin serta mineral penting seperti zat besi, vitamin A, yodium, dan zinc. Ketika sistem pangan runtuh, keseimbangan ini hancur dan malnutrisi muncul dengan cepat.
Proses kelaparan dimulai dari penggunaan glikogen dalam hati untuk menjaga kadar gula darah. Setelah habis, tubuh memecah protein dari otot dan lemak untuk membuat energi.
Dalam beberapa hari, hati memproduksi keton dari lemak agar otak tetap bekerja.
Namun, saat lemak habis, tubuh mulai memakan proteinnya sendiri, melemahkan otot, merusak kekebalan, dan memicu infeksi mematikan seperti pneumonia.
Secara fisik, penderita kelaparan mengalami penurunan berat badan drastis, otot menyusut, kulit kering, rambut rontok, detak jantung melambat, dan luka sulit sembuh.
Secara mental, mereka bisa menjadi apatis, mudah marah, cemas, bahkan depresi. Anak-anak yang mengalami kelaparan kronis berisiko mengalami pertumbuhan terhambat dan kerusakan otak permanen.
Jika kelaparan berlangsung, kematian biasanya terjadi setelah 60–70 hari tanpa makanan pada orang dewasa sehat. Menghentikan kelaparan pun tidak bisa sembarangan.
Pemberian makanan kembali secara tiba-tiba, khususnya yang tinggi karbohidrat, dapat memicu sindrom refeeding yang berbahaya bagi jantung dan pernapasan.
Protokol medis merekomendasikan pemulihan bertahap dengan susu terapeutik F-75, makanan padat energi seperti pasta kacang, garam rehidrasi oral, dan suplemen mikronutrien.
Anabtawi menegaskan, “Mengatasi kelaparan bukan sekadar memberi makan sekali, tapi memastikan akses pangan yang berkelanjutan dan aman.”
Dalam krisis kemanusiaan seperti di Gaza atau Sudan, bantuan yang tidak cukup secara kualitas maupun kuantitas hanya akan memperpanjang siklus penderitaan.
0 Komentar
Liburan Berujung Duka, Penumpang Lansia Meninggal Usai Naik Roller Coaster Universal Orlando
Legenda Fashion Valentino Garavani Tutup Usia, Ikon Gaun Merah yang Dicintai Dunia Glamour
Bangun Pagi Terlalu Dini Bisa Bahayakan Kesehatan, Dokter Ingatkan
Makeup Kedaluwarsa Diam-Diam Bikin Wajah Rusak, Ini Cara Simpel Beresin dan Menyimpannya
Kim Kardashian Buka 2026 dengan Gaya Ekstrem di Aspen, Korset Bulu hingga Mantel Super Dramatis
Tren Makeup 2026 Berubah Total: Clean Girl Ditinggal, Tampilan Bold Kini Jadi Favorit
Camila Mendes Bikin Heboh Lagi, Ganti Warna Rambut Honey Brown dan Disebut Balik Jadi Diri Sendiri
Leave a comment