Makanan Favorit Ini Ternyata Naikkan Risiko Penyakit Jantung Hingga 67%!

30 Maret 2026 11:45
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Ilustrasi seseorang berbelanja makanan kemasan di supermarket yang termasuk kategori makanan ultra-proses.

Sahabat.com - Di era modern, makanan praktis seperti roti kemasan, sereal, hingga makanan beku menjadi pilihan banyak orang karena dianggap cepat dan mudah. Namun di balik kepraktisannya, makanan ultra-proses kini semakin menjadi sorotan karena dampaknya terhadap kesehatan, khususnya jantung.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam JACC: Advances, konsumsi makanan ultra-proses dalam jumlah tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular hingga 67 persen. Studi ini melibatkan lebih dari 6.800 orang dewasa selama 12 tahun dan mengamati pola makan serta kejadian seperti serangan jantung dan stroke.

Makanan ultra-proses sendiri adalah produk industri yang dibuat dari bahan hasil ekstraksi seperti gula, lemak, dan zat tambahan buatan. Contohnya termasuk makanan cepat saji, minuman manis, camilan kemasan, hingga pizza beku. Bahkan, penelitian sebelumnya menunjukkan sebagian besar pasokan makanan modern didominasi jenis ini.

Minhal Makshood menjelaskan bahwa setiap tambahan satu porsi makanan ultra-proses per hari dapat meningkatkan risiko penyakit jantung sebesar 5,1 persen. Ia menyebut angka tersebut sebagai “cukup signifikan” dalam dunia medis.

Sementara itu, Allen Taylor mengungkap bahwa tanpa disadari, konsumsi makanan ultra-proses bisa dengan mudah mencapai angka tinggi dalam sehari. “Satu hari biasa bisa terdiri dari sereal kemasan, camilan, sandwich olahan, hingga makan malam instan. Banyak orang tidak menyadari bahwa itu semua termasuk makanan ultra-proses,” ujarnya.

Dampaknya terhadap tubuh pun tidak sederhana. Selain tinggi garam, gula, dan lemak tidak sehat, makanan ini juga cenderung rendah serat sehingga tidak memberikan rasa kenyang yang cukup. Proses pengolahannya juga dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma usus, memicu peradangan, hingga meningkatkan risiko resistensi insulin dan tekanan darah tinggi.

Meski demikian, para ahli tidak menyarankan untuk menghindari sepenuhnya, melainkan menjaga keseimbangan. Pola makan 80/20, di mana sebagian besar konsumsi berasal dari makanan segar seperti sayur, buah, ikan, dan kacang-kacangan, dinilai lebih realistis untuk diterapkan.

Makshood menegaskan, “Pesan utamanya bukan soal menghindari satu jenis makanan sepenuhnya, tetapi melihat pola makan secara keseluruhan. Semakin banyak makanan ultra-proses dalam diet, semakin besar risiko bagi kesehatan jantung dalam jangka panjang.”

Dengan kata lain, perubahan kecil dalam pilihan makanan sehari-hari bisa menjadi langkah besar untuk menjaga kesehatan jantung dan kualitas hidup.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment