Sahabat.com - Bagi banyak wanita, tidur nyenyak selama semalaman mungkin terasa sebagai hal yang biasa. Namun, saat memasuki usia akhir 30-an hingga 50-an tahun, tidak sedikit yang mulai mengalami perubahan pola tidur secara tiba-tiba. Salah satu keluhan yang paling sering muncul adalah sering terbangun pada pukul 2 atau 3 pagi dan sulit kembali terlelap.
Pengalaman inilah yang dialami Charity Jones, seorang akuntan berusia 50-an tahun. Setelah bertahun-tahun dikenal sebagai sosok yang mudah tidur, ia mendadak mengalami insomnia ringan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. “Saya tidak bisa membuat otak berhenti bekerja di malam hari. Ketika akhirnya tertidur, suara sekecil apa pun bisa langsung membangunkan saya,” ujarnya.
Menurut Chief Medical Officer Ivim Health, Dr. Jessica Duncan, kondisi tersebut sangat mungkin berkaitan dengan perubahan hormon yang terjadi selama perimenopause. Masa transisi sebelum menopause ini bahkan bisa dimulai sejak usia akhir 30-an tahun, lebih cepat dari yang banyak wanita bayangkan.
“Banyak pasien mengira ini hanya stres atau proses penuaan biasa. Padahal ada alasan fisik yang membuat mereka terus terbangun pada pukul 3 pagi, dan kondisi itu bisa ditangani,” kata Dr. Duncan.
Penurunan hormon progesteron menjadi salah satu pemicu utama. Hormon ini memiliki efek menenangkan dan membantu tubuh tidur lebih nyenyak. Ketika kadarnya menurun, tubuh menjadi lebih gelisah dan sulit beristirahat. Di sisi lain, penurunan estrogen dapat memicu hot flashes dan keringat malam yang membuat tidur terputus-putus.
Tak hanya itu, hormon stres kortisol juga ikut berperan. Pada masa perimenopause, ritme alami kortisol dapat berubah sehingga kadarnya meningkat lebih awal dari seharusnya. Inilah yang membuat banyak wanita terbangun pada waktu yang hampir sama setiap malam.
Kurang tidur akibat perubahan hormon bukan hanya memengaruhi energi tubuh. Kondisi ini juga dapat berdampak pada suasana hati, konsentrasi, berat badan, hingga kesehatan metabolisme. “Saat tidur nyenyak, otak memperbaiki diri dan memperkuat memori. Jika tidur terus terganggu, dampaknya akan terasa pada fokus, emosi, dan berat badan,” jelas Dr. Duncan.
Kabar baiknya, gangguan tidur akibat perimenopause dapat diatasi. Terapi hormon, perubahan gaya hidup, terapi perilaku untuk insomnia, hingga menghindari makan dua hingga tiga jam sebelum tidur menjadi beberapa pilihan yang dapat membantu meningkatkan kualitas istirahat.
Setelah mendapatkan penanganan yang tepat, Jones mengaku hidupnya berubah drastis. “Saya merasa seperti menjadi pribadi yang berbeda. Lebih percaya diri, lebih bahagia, lebih berenergi. Dan saya yakin sebagian besar perubahan itu berasal dari tidur yang lebih baik,” tuturnya.
0 Komentar
Bella Hadid Ungkap Perjuangan Melawan Penyakit Kronis, Sempat Merasa Kehilangan Harapan
Mentega atau Margarin, Mana yang Lebih Sehat? Jawabannya Ternyata Tidak Sesederhana Itu
Bukan Cuma Jalan Kaki, Latihan Angkat Beban Disebut Rahasia Awet Muda di Usia 60 Tahun ke Atas
Makanan Tinggi Serat yang Diam-Diam Menjaga Jantung Tetap Sehat
Kebiasaan Berani Setelah Usia 50 Tahun yang Bisa Membuat Hidup Lebih Sehat dan Bahagia
Sering Terbangun Jam 3 Pagi? Ternyata Ini Tanda Perimenopause yang Kerap Diabaikan Banyak Wanita
Tidak Perlu 10.000 Langkah Sehari, Ini Jumlah Jalan Kaki yang Lebih Tepat Menurut Ahli
Leave a comment