Sahabat.com - Mengalami kecelakaan, menjadi korban kekerasan, atau menyaksikan peristiwa yang mengancam nyawa memang dapat meninggalkan luka emosional. Namun, jika rasa cemas, takut, hingga sulit menjalani aktivitas sehari-hari terus muncul dalam beberapa hari setelah kejadian, kondisi tersebut bisa menjadi tanda **Acute Stress Disorder (ASD)** atau gangguan stres akut.
ASD merupakan gangguan kesehatan mental yang muncul segera setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis. Berbeda dengan stres biasa, kondisi ini dapat mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, hingga kualitas hidup jika tidak segera ditangani. Gangguan ini umumnya berlangsung selama tiga hari hingga maksimal satu bulan setelah trauma terjadi. Jika gejalanya bertahan lebih lama, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).
Psikolog kesehatan sekaligus spesialis stres dan insomnia, Dr. Julia Kogan, menjelaskan bahwa ASD adalah kumpulan gejala yang muncul dalam waktu satu bulan setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis. Menurutnya, tidak semua orang yang mengalami trauma akan mengalami gangguan ini. "Hal tersebut sangat bergantung pada bagaimana seseorang mengalami peristiwa tersebut, kemampuan mereka dalam menghadapi stres, kondisi kesehatan mental sebelumnya, serta berbagai faktor lainnya," jelas Dr. Kogan.
Gejala ASD tidak hanya berupa kecemasan berlebihan. Penderitanya juga dapat mengalami mimpi buruk, ingatan yang terus menghantui, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, mudah terkejut, hingga menghindari tempat atau orang yang mengingatkan pada peristiwa traumatis. Secara fisik, kondisi ini juga bisa memicu jantung berdebar, sesak napas saat panik, mual, hingga gangguan pencernaan.
Praktisi kesehatan jiwa Allison Paugh menambahkan bahwa penderita ASD juga dapat merasa mati rasa secara emosional, kehilangan kemampuan merasakan kebahagiaan, mudah marah, bahkan mengalami kesulitan mengingat bagian penting dari kejadian traumatis. Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari menjadi terganggu, baik di lingkungan kerja maupun dalam hubungan dengan keluarga dan teman.
Penanganan ASD umumnya dilakukan melalui psikoterapi, terutama **Cognitive Behavioral Therapy (CBT)** yang berfokus pada trauma. Terapi ini dinilai efektif membantu mengurangi gejala sekaligus menekan risiko berkembang menjadi PTSD. Dalam beberapa kasus, dokter juga dapat memberikan obat untuk membantu mengatasi gangguan tidur, mimpi buruk, atau kecemasan yang berat.
Dr. Kogan mengingatkan pentingnya mencari bantuan profesional sejak dini. "Semakin cepat seseorang mendapatkan bantuan, semakin besar peluang untuk mengendalikan gejala dan mencegah berkembangnya gangguan stres pascatrauma atau PTSD," ujarnya.
0 Komentar
Dokter Ungkap Makanan Panas Justru Bisa Bikin Tubuh Lebih Sejuk Saat Cuaca Ekstrem, Kok Bisa?
Flu Berujung Amputasi 3 Anggota Tubuh, Perjuangan Remaja 14 Tahun Ini Bikin Haru Dunia
Leave a comment