Sering Terbangun karena Keringat di Malam Hari? Dokter Ungkap Penyebab dan Cara Ampuh Mengatasinya

13 Juli 2026 11:33
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Ilustrasi seorang perempuan terbangun di malam hari akibat keringat berlebih saat tidur, kondisi yang umum terjadi selama masa menopause.

Sahabat.com - Bangun tidur dengan pakaian dan seprai basah karena keringat tentu bukan pengalaman yang menyenangkan. Kondisi yang dikenal sebagai night sweats atau keringat malam ini ternyata cukup umum terjadi, terutama pada perempuan yang memasuki masa menopause. Bahkan, sekitar 80 persen perempuan mengalami keluhan tersebut, sementara laporan American Family Physician menyebutkan sekitar 41 persen pasien layanan kesehatan primer pernah mengalami keringat malam karena berbagai penyebab.

Direktur Medis Carolyn Rowan Center for Women's Health and Wellness sekaligus dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Mount Sinai Hospital, Dr. Francesco Callipari, menjelaskan bahwa night sweats berbeda dengan sekadar merasa kepanasan saat tidur. "Keringat malam yang sebenarnya muncul dalam gelombang, sering diawali sensasi panas mendadak, lalu membuat pakaian atau seprai benar-benar basah meski suhu ruangan sudah sejuk," ujarnya.

Menurut Callipari, penyebab paling umum adalah menopause. Penurunan kadar hormon estrogen membuat pusat pengatur suhu tubuh di otak menjadi lebih sensitif. Akibatnya, sedikit peningkatan suhu tubuh saja dapat memicu pelebaran pembuluh darah, rasa panas, keringat berlebih, hingga tubuh terasa menggigil setelahnya. Kondisi ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun dan mengganggu kualitas tidur, sehingga memicu kelelahan, sulit berkonsentrasi, mudah marah, hingga perubahan suasana hati.

Selain menopause, keringat malam juga bisa dipicu oleh efek samping obat antidepresan, obat diabetes, gangguan tidur, penyakit autoimun, hingga beberapa jenis kanker. Karena itu, keluhan yang berlangsung terus-menerus sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter.

Callipari mengatakan terapi hormon menopause masih menjadi penanganan paling efektif bagi pasien yang memenuhi syarat. Selain itu, tersedia pula obat nonhormonal, disertai perubahan gaya hidup seperti menjaga suhu kamar tetap sejuk, menghindari makanan pedas, alkohol, dan kafein pada malam hari, mengelola stres, serta menerapkan pola tidur yang sehat. Penggunaan pakaian tidur dan seprai berbahan yang mampu menyerap kelembapan juga dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman.

"Anda tidak harus bertahan begitu saja dengan kondisi ini. Anggapan bahwa perempuan harus menerima keringat malam sebagai hal yang wajar sudah ketinggalan zaman. Ada banyak pilihan pengobatan yang bisa membantu," tegas Callipari.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment