Anak yang Kurang Tidur Berisiko Dua Kali Lipat Alami Depresi Saat Remaja, Ini Alasannya

15 Juni 2026 13:35
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Ilustrasi seorang anak sedang tidur yang menggambarkan pentingnya kualitas tidur bagi pertumbuhan dan kesehatan mental.

Sahabat.com - Kebiasaan tidur anak ternyata bisa menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kesehatan mental di masa depan. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa anak-anak yang mengalami pola tidur kurang sejak usia dini memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala depresi ketika memasuki masa remaja.

Tim peneliti dari University of Birmingham menganalisis data lebih dari 15.000 anak yang mengikuti studi jangka panjang Children of the 90s atau Avon Longitudinal Study of Parents and Children. Penelitian ini memantau durasi tidur anak mulai dari bayi berusia 6 bulan, 18 bulan, 30 bulan, hingga masa kanak-kanak sekitar usia 7 tahun.

Para peneliti kemudian membandingkan kebiasaan tidur tersebut dengan kondisi emosional peserta ketika berusia 12 hingga 22 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak yang secara konsisten memiliki waktu tidur lebih pendek memiliki kemungkinan dua kali lebih besar melaporkan gejala depresi berat saat remaja hingga awal dewasa.

Dr. Isabel Morales-Muñoz, penulis utama penelitian dari University of Birmingham, mengatakan bahwa masalah tidur yang berlangsung lama memang ditemukan meningkatkan risiko depresi, meski hanya dialami oleh sebagian kecil anak dalam penelitian tersebut.

“Tidur adalah bagian dari kehidupan anak yang dapat diperbaiki tanpa harus melalui intervensi medis. Memperbaiki kualitas tidur sejak kecil bisa memberikan banyak manfaat, termasuk mengurangi potensi risiko kesehatan mental,” ujar Morales-Muñoz.

Para ahli menjelaskan bahwa tidur merupakan faktor yang bisa diubah. Orang tua dapat membantu anak memiliki pola tidur lebih sehat dengan menetapkan jam tidur yang konsisten, mengurangi penggunaan layar sebelum tidur, meningkatkan aktivitas fisik, serta menciptakan suasana kamar yang nyaman dan tenang.

Penelitian ini juga melihat kemungkinan hubungan antara gangguan tidur, peradangan dalam tubuh, dan depresi. Salah satu penanda peradangan bernama IL-6 disebut mungkin memiliki peran dalam hubungan tersebut.

Dr. Rebekah Amos, salah satu peneliti, menjelaskan bahwa tidur buruk dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental melalui proses biologis tertentu, termasuk peradangan.

Meski terlihat sederhana, kebiasaan tidur anak ternyata dapat memberikan dampak besar. Membentuk rutinitas tidur yang baik sejak dini bukan hanya membantu anak lebih segar saat beraktivitas, tetapi juga menjadi investasi penting bagi kesehatan otak dan emosinya di masa depan.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment