Banyak Ibu Berhenti Menyusui Karena Takut Obat, Padahal Tak Perlu

05 Agustus 2025 13:15
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Penelitian ini menunjukkan bahwa ketakutan soal keamanan obat selama menyusui telah mendorong banyak perempuan untuk menyapih anaknya lebih awal.

Sahabat.com - Manfaat menyusui untuk kesehatan ibu dan bayi sudah tidak terbantahkan. Namun, sebuah studi baru dari University of Bath mengungkap bahwa banyak ibu yang sedang mengonsumsi obat justru disarankan berhenti menyusui—meski sebenarnya tidak perlu.

Penelitian ini menunjukkan bahwa ketakutan soal keamanan obat selama menyusui telah mendorong banyak perempuan untuk menyapih anaknya lebih awal. 

Padahal, sebagian besar obat yang membuat ibu khawatir sebenarnya tidak terbukti membahayakan bayi, bahkan hanya menimbulkan risiko yang sangat kecil, yang jauh lebih kecil dibandingkan manfaat menyusui itu sendiri.

Studi yang dipublikasikan di International Breastfeeding Journal ini mengungkap bahwa 18 persen perempuan yang memerlukan obat akhirnya berhenti menyusui. Angka itu melonjak hingga 58 persen pada mereka yang memiliki penyakit kronis. Lebih dari 70 persen responden dalam survei Public Health England juga mengakui bahwa menyusui bisa membuat mereka ragu minum obat.

Rachel Pilgrim, penulis utama studi ini sekaligus apoteker dan ibu menyusui, mengaku bahwa pengalamannya sendiri memicu penelitian ini. 

"Saya merasa gugup menentang nasihat dokter, padahal pekerjaan saya sebagai apoteker memang untuk mengkaji ulang informasi obat. Pengalaman itu membuat saya berpikir—bagaimana nasib ibu-ibu yang tidak tahu harus bertanya ke siapa?" ungkapnya.

Di Inggris, WHO menyarankan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, dan dilanjutkan hingga satu tahun atau lebih dengan makanan pendamping. 

Namun kenyataannya, hanya 1 persen ibu di sana yang berhasil menyusui secara eksklusif selama enam bulan. 

Padahal di AS, Kanada, dan Australia, angkanya bisa mencapai 27 hingga 38 persen.
Ketakutan utama soal obat berasal dari kurangnya data klinis. 

Wanita menyusui jarang dilibatkan dalam uji coba obat karena alasan etika. Akibatnya, banyak informasi efek samping obat selama menyusui yang belum tersedia. Namun, yang mengejutkan, banyak panduan medis seperti British National Formulary (BNF) justru menyarankan untuk menghindari obat tertentu, bukan karena terbukti berbahaya, melainkan karena datanya belum lengkap. 

Pendekatan yang terlalu hati-hati ini justru bisa menyesatkan.

"BNF memang jadi acuan utama, tapi sering kali tidak menunjukkan gambaran utuh. Banyak ibu akhirnya berhenti menyusui meski mereka minum obat yang sebenarnya aman, seperti antidepresan dan pereda nyeri," kata Pilgrim.

Layanan Drugs in Breast Milk Service dari Breastfeeding Network di Inggris juga menemukan bahwa 21 persen ibu yang menghubungi mereka telah disarankan berhenti menyusui oleh tenaga medis. 

Ironisnya, 98 persen dari saran itu ternyata keliru dan ibu tersebut sebenarnya masih bisa menyusui dengan aman.

Dr. Matthew Jones, apoteker dan dosen di University of Bath yang turut menulis studi ini, memahami tantangan para dokter. 

"Untuk memverifikasi keamanan obat secara mendalam, saya bisa menghabiskan waktu dua jam mencari data dari sumber spesialis. Tidak semua tenaga medis punya waktu sebanyak itu," jelasnya.

Sementara itu, Dr. Sarah Chapman dari King’s College London mengatakan, "Kita tahu banyak ibu menyusui yang menolak minum obat penting karena takut, padahal obat itu sebenarnya aman. Studi ini membuktikan bahwa mereka juga menghentikan menyusui karena informasi yang salah."

Rachel Pilgrim kini melanjutkan penelitiannya dalam program Ph.D. Ia berencana membuat panduan khusus agar perempuan dan tenaga medis bisa lebih mudah mendapatkan informasi akurat soal obat dan menyusui. Harapannya, makin banyak ibu yang berani tetap menyusui meski harus minum obat yang penting untuk kesehatannya.

Laura Kearney, Konsultan Farmasi di UK Drugs in Lactation Advisory Service menambahkan, “Kami selalu mencoba mengedukasi bahwa menyetop ASI demi bisa minum obat bukan pilihan yang bebas risiko. Manfaat menyusui juga perlu diperhitungkan."

Desh Mofidi dari Pharmacy Research UK menyimpulkan, "Penelitian ini sangat penting untuk menutup celah informasi soal obat dan menyusui. Ini akan membantu masyarakat dan juga para profesional kesehatan."

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment