Sahabat.com - Kanker usus besar selama ini dikenal sebagai penyakit yang lebih sering menyerang orang lanjut usia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti menemukan tren mengkhawatirkan: semakin banyak orang muda yang didiagnosis mengalami kanker kolorektal.
Sebuah penelitian dari California Linkage Study of Early-Onset Cancers menganalisis data kelahiran dan catatan diagnosis kanker untuk mencari faktor yang mungkin berhubungan dengan meningkatnya kasus kanker usus besar pada usia dini. Hasilnya menunjukkan bahwa ada berbagai faktor biologis, lingkungan, dan gaya hidup yang mungkin berkontribusi.
Salah satu faktor yang ditemukan adalah jenis kelamin. Pria diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker usus besar dibandingkan wanita. Perbedaan hormon seksual dan kondisi mikrobioma usus diduga menjadi salah satu penyebabnya.
Selain itu, kelompok etnis tertentu juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker kolorektal usia muda. Hambatan dalam akses layanan kesehatan, seperti keterbatasan informasi, ekonomi, atau pemeriksaan medis, dapat menyebabkan diagnosis ditemukan ketika penyakit sudah berkembang lebih jauh.
Faktor sejak lahir juga menjadi perhatian. Pada perempuan, berat badan lahir yang lebih tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus besar di masa depan. Peneliti menduga proses pertumbuhan janin dapat memengaruhi kesehatan tubuh dalam jangka panjang.
Usia ayah saat kelahiran anak juga disebut memiliki kaitan. Anak perempuan dari ayah yang berusia 35 tahun atau lebih saat kelahiran memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker kolorektal. Kemungkinan ini berkaitan dengan perubahan genetik yang dapat meningkat seiring bertambahnya usia.
Perubahan zaman juga menjadi faktor penting. Orang yang lahir dalam beberapa dekade terakhir menghadapi risiko lebih tinggi terkena kanker usus besar lebih muda, salah satunya akibat perubahan pola makan modern dan paparan lingkungan.
Pola makan ala Barat yang tinggi makanan ultra-proses, daging olahan, dan rendah serat menjadi salah satu perhatian utama. Sebaliknya, makanan kaya serat serta makanan fermentasi seperti yogurt atau makanan probiotik dapat membantu menjaga keseimbangan bakteri baik dalam usus.
Kurangnya aktivitas fisik juga menjadi kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko. Olahraga rutin membantu menjaga berat badan ideal, memperbaiki metabolisme, dan mendukung kesehatan sistem pencernaan.
Selain itu, kondisi ibu saat kehamilan juga ikut dipelajari. Obesitas pada ibu hamil diduga berhubungan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal pada anak di kemudian hari.
Keseimbangan mikrobioma usus juga menjadi sorotan. Ketika jumlah bakteri baik dalam usus terganggu, kondisi tersebut dapat memengaruhi sistem imun dan meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk kanker.
Faktor terakhir yang sering terjadi adalah terlambat melakukan pemeriksaan. Kanker usus besar pada orang muda sering kali ditemukan ketika sudah berada pada tahap lebih lanjut karena gejalanya dianggap sepele.
Para ahli mengingatkan bahwa perubahan pola hidup sehat, menjaga pola makan, aktif bergerak, dan melakukan pemeriksaan jika memiliki faktor risiko dapat membantu mendeteksi penyakit lebih awal.
0 Komentar
Bella Hadid Ungkap Perjuangan Melawan Penyakit Kronis, Sempat Merasa Kehilangan Harapan
Leave a comment