Menopause Dini Bukan Biang Diabetes? Studi Terbaru Ungkap Fakta yang Bikin Perempuan Lega

19 Januari 2026 13:01
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Ilustrasi perempuan dewasa duduk di dekat jendela sambil bekerja dengan laptop, merefleksikan fase hidup dan kesadaran akan kesehatan pascamenopause.

Sahabat.com - Menopause sering menjadi fase yang penuh tanda tanya bagi perempuan, terutama soal dampaknya terhadap kesehatan jangka panjang. Salah satu kekhawatiran yang kerap muncul adalah anggapan bahwa menopause dini bisa meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Namun, studi terbaru dari peneliti Spanyol justru membawa kabar menenangkan. Penelitian ini menemukan bahwa waktu terjadinya menopause tidak berkaitan langsung dengan meningkatnya risiko diabetes.

Menopause sendiri menandai berakhirnya masa reproduksi perempuan dan umumnya terjadi di usia 45 hingga 55 tahun. Ada perempuan yang mengalaminya lebih awal, bahkan sebelum usia 40. Selama ini, kondisi tersebut sering dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung dan gangguan metabolik. Namun berdasarkan data dari UK Biobank yang melibatkan lebih dari 146 ribu perempuan pascamenopause selama rata-rata 14,5 tahun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya terbukti.

Hasil penelitian menunjukkan sekitar 4,5 persen partisipan mengalami diabetes, mayoritas merupakan diabetes tipe 2. Meski pada awalnya terlihat bahwa perempuan dengan menopause lebih dini memiliki angka diabetes lebih tinggi, hubungan ini menghilang setelah peneliti memperhitungkan faktor lain. Ternyata, pemicu utamanya adalah gaya hidup dan kondisi kesehatan seperti obesitas, kebiasaan merokok, pola makan tidak sehat, tekanan darah tinggi, serta riwayat diabetes dalam keluarga.

Dokter spesialis kandungan dan kesehatan perempuan, Dr. Sherry Ross, mengatakan studi ini menegaskan bahwa tidak ada peningkatan risiko diabetes semata karena menopause dini. Ia menekankan pentingnya kebiasaan sehat. “Penelitian ini menyoroti bagaimana gaya hidup sehat sangat memengaruhi risiko diabetes dan perubahan metabolik setelah menopause,” ujarnya. Ia juga menyarankan perempuan lebih aktif bergerak, menjaga pola makan, membatasi alkohol, dan memperbaiki kualitas tidur.

Hal senada disampaikan Dr. Swaroopini Thangarajah, dokter umum spesialis kesehatan perempuan. Menurutnya, hasil studi ini sangat melegakan. “Penelitian ini menunjukkan bahwa kapan dan bagaimana menopause terjadi jauh lebih kecil pengaruhnya dibanding kesehatan kardiovaskular dan gaya hidup secara keseluruhan,” jelasnya. Ia menegaskan perempuan tidak perlu merasa tak berdaya karena banyak faktor risiko berada dalam kendali mereka sendiri.

Kesimpulannya, menopause bukanlah akhir dari kendali atas kesehatan. Justru fase ini menjadi pengingat bahwa menjaga berat badan ideal, aktif secara fisik, tidak merokok, serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan adalah kunci utama agar tetap sehat dan terhindar dari diabetes.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment