Musim Panas Makin Panjang, Risiko Gigitan Kutu Pembawa Penyakit Ikut Meningkat

02 Juni 2026 16:48
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Kutu rusa (deer tick) yang dikenal sebagai salah satu pembawa utama penyakit Lyme. Meningkatnya suhu global membuat aktivitas kutu semakin tinggi dan memperluas wilayah penyebarannya.

Sahabat.com - Perubahan iklim ternyata tidak hanya berdampak pada suhu bumi yang semakin panas, tetapi juga memengaruhi penyebaran berbagai penyakit. Salah satu yang kini menjadi perhatian para ahli kesehatan adalah meningkatnya aktivitas kutu (tick) pembawa penyakit akibat musim hangat yang berlangsung lebih lama.

Di Georgia, Amerika Serikat, para peneliti mencatat bahwa musim aktivitas kutu yang biasanya terjadi dari awal musim semi hingga akhir musim gugur kini semakin panjang. Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit yang dibawa kutu kepada manusia maupun hewan.

Ahli entomologi kesehatan masyarakat dari Departemen Kesehatan Publik Georgia, Dr. Rosmarie Kelly, mengatakan bahwa perubahan pola aktivitas kutu saat ini lebih dipengaruhi kondisi cuaca lokal dibandingkan perubahan musim secara permanen.

“Kami mulai menerima beberapa laporan kemunculan kutu lebih awal. Kemudian cuaca menjadi sangat kering sehingga laporan berkurang. Setelah hujan turun, laporan kembali meningkat. Saat ini kami belum melihat adanya perubahan yang benar-benar pasti,” ujar Kelly.

Peningkatan suhu diketahui mempercepat perkembangan dan pertumbuhan populasi kutu. Selain itu, kutu kini dapat bertahan hidup dan menyebar ke wilayah yang sebelumnya terlalu dingin untuk mereka huni.

Di Georgia sendiri, kutu diketahui dapat menularkan sejumlah penyakit, termasuk Rocky Mountain spotted fever dan Lyme disease yang menjadi kasus paling umum. Menurut Kelly, masyarakat sebaiknya menghindari area dengan vegetasi lebat, tumpukan daun kering, semak-semak, atau kawasan dekat pepohonan saat aktivitas kutu sedang tinggi.

“Kutu biasanya berada di area dengan vegetasi tinggi yang lembap dan teduh. Mereka dapat memanjat batang rumput atau semak rendah sambil menunggu inang lewat,” jelasnya.

Untuk mengurangi risiko gigitan kutu, masyarakat disarankan menggunakan losion antiserangga yang mengandung DEET, menghindari duduk langsung di tanah, serta melakukan pemeriksaan tubuh secara menyeluruh setelah beraktivitas di luar ruangan. Anak-anak dan hewan peliharaan juga perlu diperiksa setiap hari.

Jika setelah tergigit kutu muncul gejala seperti demam, ruam kulit, kelelahan, nyeri otot, atau keluhan mirip flu, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Diagnosis dan penanganan dini dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment