Olahraga Ternyata Bisa Redakan Depresi, Efeknya Disebut Setara Terapi Psikolog

13 Januari 2026 12:05
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Sekelompok perempuan melakukan latihan intensitas sedang yang terbukti bermanfaat bagi kesehatan mental.

Sahabat.com - Aktif bergerak ternyata bukan hanya baik untuk fisik, tapi juga punya dampak besar bagi kesehatan mental. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa olahraga dapat membantu meredakan gejala depresi dengan efektivitas yang setara dengan terapi psikologis. Temuan ini menjadi kabar baik bagi banyak orang yang kesulitan mengakses atau tidak merespons pengobatan konvensional.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal *Cochrane Database of Systematic Reviews* ini menganalisis 73 uji klinis terkontrol secara acak dengan melibatkan sekitar 5.000 orang dewasa yang mengalami depresi. Hasilnya, olahraga terbukti memberikan manfaat sedang dalam menurunkan gejala depresi dibandingkan tanpa perawatan, dan efeknya hampir sama dengan terapi psikologis.

Andrew Clegg, PhD, peneliti utama sekaligus profesor riset layanan kesehatan dari University of Lancashire, Inggris, mengatakan pentingnya pembaruan riset ini. “Bukti ilmiah yang menjadi dasar rekomendasi kesehatan harus selalu diperbarui agar pasien dan tenaga medis bisa mengambil keputusan terbaik,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa olahraga memberi pilihan tambahan yang layak bagi penderita depresi.

Menariknya, olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang justru dinilai paling efektif. Aktivitas seperti jalan santai, berkebun, bersepeda, atau berenang memberikan manfaat lebih baik dibandingkan olahraga berat. Program latihan gabungan dan latihan kekuatan juga dinilai lebih efektif daripada kardio saja. “Jika memilih olahraga sebagai opsi perawatan, pilihlah aktivitas yang terasa menyenangkan dan sesuai kemampuan,” kata Clegg.

Psikolog saraf Raphael Wald, PsyD, menilai temuan ini menguatkan bukti lama bahwa olahraga adalah terapi yang efektif. “Banyak pasien depresi tidak merespons obat atau terapi. Karena itu, alternatif seperti olahraga sangat penting,” jelasnya. Senada, Karmel Choi, PhD, psikolog klinis dari Harvard Medical School, menyebut olahraga bisa menjadi pilihan bagi mereka yang enggan terapi karena stigma atau efek samping. “Memperluas pilihan perawatan memberi harapan baru bagi pemulihan,” ujarnya, meski ia menekankan olahraga lebih tepat sebagai pendamping, bukan pengganti terapi.

Dengan jutaan orang di dunia hidup dengan depresi, temuan ini memperkuat pesan bahwa gaya hidup aktif bisa menjadi langkah sederhana namun berdampak besar. Bergerak secara rutin bukan hanya soal kebugaran, tetapi juga investasi penting untuk kesehatan mental jangka panjang.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment