Sahabat.com - Apakah orang dengan gangguan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) lebih cenderung mendengarkan musik latar belakang saat melakukan tugas sehari-hari?
Pertanyaan ini diteliti oleh Kelly-Ann Lachance, seorang mahasiswa doktoral dalam bidang neuropsikologi klinis di Université de Montréal.
Lachance, bersama dengan pembimbingnya, Profesor Nathalie Gosselin, seorang neuropsikolog dan profesor psikologi, menganalisis respons dari 434 orang dewasa muda berusia antara 17 hingga 30 tahun yang mengikuti survei online mengenai kebiasaan mendengarkan musik.
"Dalam penelitian di laboratorium, kami jarang menanyakan tentang kebiasaan mendengarkan musik, padahal itu penting karena setiap orang memiliki kebutuhan stimulasi yang berbeda untuk menyelesaikan tugas secara optimal," kata Lachance.
Hasil penelitian ini dipublikasikan di Frontiers in Psychology pada Januari 2025. Lachance memilih untuk menerbitkan hasilnya di jurnal akses terbuka agar dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
"Sebagai calon klinisi, saya ingin menggunakan penelitian ini untuk membantu individu yang saya tangani," ujarnya.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data yang dikumpulkan sepenuhnya melalui survei yang diluncurkan pada akhir pandemi.
Survei ini memuat pertanyaan tentang kebiasaan mendengarkan musik dan efek subjektif musik latar belakang. Untuk mengidentifikasi apakah responden memiliki ADHD atau tidak, survei menggunakan skala Adult ADHD Self-Report Scale for DSM-5 (ASRS-5), yang mengelompokkan 118 responden sebagai ADHD dan 316 sebagai neurotipikal.
Penelitian ini mengungkapkan bahwa orang dengan ADHD lebih sering mendengarkan musik latar belakang saat berolahraga atau belajar dibandingkan dengan orang neurotipikal.
Namun, orang neurotipikal menghabiskan lebih banyak waktu dalam seminggu mendengarkan musik tanpa melakukan aktivitas lain.
Peneliti juga menemukan bahwa orang dengan ADHD cenderung memilih musik yang lebih merangsang daripada musik yang menenangkan saat belajar.
"Orang dengan ADHD membutuhkan lebih banyak aktivasi untuk berfungsi secara optimal, dan musik bisa membantu dalam hal ini," jelas Lachance.
Apakah musik bermanfaat untuk orang dengan ADHD?
Gosselin, yang juga direktur Laboratorium Penelitian Musik, Emosi, dan Kognisi UdeM (MUSEC) dan peneliti di BRAMS (Laboratorium Internasional untuk Penelitian Otak, Musik, dan Suara), berpendapat bahwa meskipun musik bukan pengganti obat, musik dapat menjadi pelengkap yang berguna.
"Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan potensi penuh musik untuk mendorong kinerja yang optimal," ujarnya.
0 Komentar
Pria 50+ Wajib Tahu! 5 Tes Jantung Ini Bisa Cegah Serangan Jantung Sebelum Terlambat
Bella Hadid Ngaku Merasa ‘Tak Berharga’ Saat Tolak Semua Pekerjaan Demi Lawan Lyme Disease
Masih Perkasa di Atas 50? Rahasia Kehidupan Intim Pria Tetap Bergairah
Telat Haid di Usia 40-an? Jangan Panik! Ini Cara Bedakan Gejala Menopause dan Hamil
Sayuran Aneh Ini Ternyata Rahasia Sehat Usus, Kaya Prebiotik dan Bikin Kenyang Lebih Lama!
Tekanan Darah Tinggi Bisa Turun Alami, Ini Daftar Makanan Sehari-hari yang Direkomendasikan Ahli
Minum Vitamin Ini Disebut Bisa Bikin Umur Lebih Panjang, Benarkah?
Leave a comment