Suka Gigit Kuku dan Menunda Pekerjaan? Ini Alasan Psikologis yang Jarang Disadari

19 Januari 2026 16:31
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Ilustrasi seorang pekerja terlihat cemas sambil menggigit kuku, menggambarkan respons otak terhadap tekanan dan ketidakpastian.

Sahabat.com -  Menggigit kuku, menunda pekerjaan, atau cenderung menghindari situasi tertentu kerap dicap sebagai kebiasaan buruk yang sulit dikendalikan. Namun sebuah buku psikologi terbaru justru mengungkap sudut pandang berbeda. Dalam buku Controlled Explosions in Mental Health, psikolog klinis Dr. Charlie Heriot-Maitland menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut bukan sekadar bentuk kemalasan atau kurang disiplin, melainkan strategi bertahan hidup yang pernah berguna bagi otak manusia.

Menurut Heriot-Maitland, otak manusia pada dasarnya tidak dirancang untuk mengejar kebahagiaan, melainkan keselamatan. “Otak kita adalah mesin bertahan hidup. Ia tidak diprogram untuk mengoptimalkan kebahagiaan, tetapi untuk menjaga kita tetap hidup,” ujarnya. Sepanjang sejarah manusia, kejutan atau ancaman tak terduga bisa berujung fatal, sehingga otak lebih memilih rasa tidak nyaman yang bisa diprediksi dibanding ancaman yang tidak pasti.

Dalam kehidupan modern, ancaman fisik mungkin berkurang, tetapi tekanan emosional seperti rasa takut gagal, penolakan, rasa malu, atau kehilangan kendali tetap memicu sistem pertahanan yang sama. Karena itu, kebiasaan seperti menunda pekerjaan bisa menjadi cara otak “menunda” rasa takut yang lebih besar. Stres akibat prokrastinasi terasa menyebalkan, tetapi dianggap lebih aman dibanding langsung menghadapi kemungkinan gagal atau dinilai orang lain.

Psikolog dan direktur program kesehatan mental di NYU Langone Health, Thea Gallagher, menyebut perilaku yang sering dianggap merusak diri ini sebenarnya bisa menjadi upaya otak untuk mengontrol ketidaknyamanan. “Perilaku yang kita sebut menyabotase diri bisa jadi adalah cara otak mengelola rasa tidak aman,” katanya. Meski begitu, Gallagher menegaskan bahwa pandangan ini lebih bersifat klinis dan masih membutuhkan lebih banyak penelitian ilmiah.

Gallagher juga mengingatkan bahwa faktor lain seperti ADHD, trauma, stres kronis, hingga tekanan sosial ekonomi turut memengaruhi kebiasaan tersebut. Untuk perubahan jangka panjang, ia menyarankan agar seseorang membangun rasa aman, mengenali pola perilaku dengan rasa ingin tahu, dan perlahan melatih diri menghadapi ketidakpastian. “Mengamati perilaku dengan rasa ingin tahu bisa mengurangi respons ancaman otomatis,” ujarnya.

Heriot-Maitland menambahkan bahwa kebiasaan ini tidak perlu diperangi, tetapi juga tidak boleh dibiarkan mengendalikan hidup. Kesadaran akan fungsi protektif kebiasaan “buruk” ini dapat mengurangi rasa malu dan membuka jalan menuju perubahan yang lebih sehat, terutama jika dibarengi dukungan profesional.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment