Sahabat.com - Dalam keseharian yang terasa aman dan nyaman, ternyata ada banyak ancaman mematikan yang sering luput dari perhatian. Ashley Alker, MD, dokter spesialis gawat darurat yang telah bertahun-tahun bekerja di berbagai negara, mengaku lebih sering merasa seperti “ahli meloloskan diri dari kematian” dibanding sekadar dokter. Ia menghadapi kecelakaan fatal hampir setiap hari, mulai dari penyakit ringan yang diremehkan hingga kebiasaan hidup yang terlihat normal.
Salah satu contoh paling umum adalah radang tenggorokan akibat bakteri streptokokus. Penyakit ini mudah diobati dengan antibiotik sederhana, namun jika dibiarkan bisa berujung komplikasi serius hingga kematian. “Masalahnya bukan sakit tenggorokannya, tapi komplikasi mematikan yang muncul jika tidak ditangani,” ujar Alker.
Ancaman lain yang jarang disadari adalah aneurisma otak. Banyak orang hidup bertahun-tahun tanpa gejala, hingga suatu hari mengalami sakit kepala hebat mendadak yang menjadi tanda kebocoran pembuluh darah otak. Kondisi ini sering berakhir fatal jika terlambat ditangani. Kehamilan pun tak selalu aman. Data Organisasi Kesehatan Dunia mencatat ratusan ribu perempuan meninggal tiap tahun akibat komplikasi kehamilan, dan lebih dari 80 persen sebenarnya bisa dicegah dengan penanganan yang tepat.
Di dalam rumah sendiri, bahaya juga mengintai. Tanaman hias seperti berbagai jenis bunga lili ternyata beracun dan berisiko fatal jika tertelan, terutama bagi anak-anak dan hewan peliharaan. Obat bebas seperti parasetamol juga sering dianggap aman, padahal overdosisnya merupakan penyebab utama gagal hati akut. “Tidak ada orang dewasa yang boleh mengonsumsi lebih dari 4.000 mg parasetamol per hari,” tegas Alker.
Ancaman lain datang dari karbon monoksida, gas tak berbau yang bisa membunuh dengan cepat jika terhirup, terutama di rumah tanpa detektor. Bahkan air putih pun bisa mematikan jika dikonsumsi berlebihan dalam waktu singkat karena menurunkan kadar natrium darah secara drastis. Reaksi alergi berat di sekolah, infeksi menular seksual seperti sifilis yang kembali meningkat, hingga botulisme dari makanan kalengan rumahan juga termasuk bahaya nyata.
Pesan utamanya sederhana: hidup sehat bukan hanya soal diet dan olahraga, tapi juga kesadaran akan risiko kecil di sekitar kita. “Edukasi dan pencegahan sering kali jauh lebih menyelamatkan nyawa dibanding pengobatan,” kata Alker.
0 Komentar
Sering Pegal dan Kaku Seiring Usia? Ini Rahasia Latihan Mobilitas agar Tubuh Tetap Lincah
Cek Darah Tak Sekadar Formalitas: Ini Waktu Ideal Tes Darah Sesuai Usia yang Jarang Diketahui
Leave a comment