Tidur Terlalu Cepat atau Terlalu Lama? Ini Sinyal Kesehatan yang Sering Diabaikan

24 Juni 2026 14:18
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Ilustrasi seseorang yang sedang tidur nyenyak. Kecepatan tertidur dapat menjadi petunjuk penting terkait kualitas tidur dan kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Sahabat.com - Banyak orang menganggap semakin cepat tertidur berarti kualitas tidur semakin baik. Namun, para ahli mengungkapkan bahwa anggapan tersebut tidak selalu benar. Faktanya, waktu yang dibutuhkan seseorang untuk terlelap dapat memberikan petunjuk penting mengenai kondisi kesehatannya.

Spesialis Behavioral Sleep Medicine dari Cleveland Clinic, Michelle Drerup, menjelaskan bahwa idealnya seseorang membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 20 menit untuk tertidur. Meski demikian, durasi tersebut bisa berbeda pada setiap individu.

“Lebih cepat belum tentu lebih baik, karena jika Anda tertidur hanya dalam waktu satu menit, hal itu bisa mengindikasikan kurang tidur atau adanya gangguan tidur tertentu,” ujar Drerup.

Tertidur terlalu cepat sering kali menjadi tanda tubuh mengalami kelelahan akibat kurang istirahat. Para ahli menyebut sebagian besar orang dewasa masih belum memenuhi kebutuhan tidur ideal, yaitu tujuh hingga sembilan jam setiap malam. Gejala kurang tidur biasanya meliputi rasa kantuk di siang hari, sulit berkonsentrasi, respons tubuh yang melambat, hingga perubahan suasana hati yang lebih sering.

Dalam jangka panjang, kekurangan tidur kronis dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, penyakit jantung, hingga kematian dini.

Sebaliknya, jika Anda membutuhkan waktu terlalu lama untuk tertidur, kondisi tersebut juga tidak boleh dianggap sepele. Hal ini bisa menjadi tanda insomnia, gangguan tidur yang kerap dipicu oleh stres, kecemasan, depresi, atau masalah kesehatan tertentu.

Dokter spesialis sleep medicine dari Henry Ford Health, Khaled Almadhoun, mengatakan bahwa beberapa kondisi seperti restless leg syndrome, sleep apnea, gangguan mimpi buruk, kecemasan, hingga depresi dapat memicu insomnia. Menurutnya, penderita depresi memiliki kemungkinan dua hingga tiga kali lebih besar mengalami insomnia dibandingkan orang lain.

Para ahli juga mengingatkan bahwa risiko gangguan tidur cenderung meningkat pada lansia dan perempuan karena faktor kesehatan kronis serta perubahan hormon.

Untuk meningkatkan kualitas tidur, disarankan menghindari penggunaan layar ponsel setidaknya 30 menit sebelum tidur, menjaga kamar tetap sejuk dan gelap, serta menerapkan jadwal tidur yang konsisten setiap hari.

Jika kesulitan tidur terjadi setidaknya tiga malam dalam seminggu selama tiga bulan berturut-turut, konsultasi dengan dokter menjadi langkah yang penting. “Lihatlah tidur sebagai investasi. Tidur memberikan dampak besar bagi kehidupan sehari-hari dan kesehatan secara keseluruhan,” tutup Drerup.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment