Sahabat.com - Brokoli dan kembang kol sering jadi pilihan utama bagi mereka yang ingin hidup lebih sehat. Dua sayuran dari keluarga cruciferous ini kerap muncul di menu diet, makanan rumahan, hingga sajian restoran sehat. Bentuknya mirip, manfaatnya pun hampir sama, tapi banyak orang masih bertanya-tanya: sebenarnya mana yang lebih sehat?
Dari sisi gizi, brokoli dan kembang kol sama-sama rendah kalori dan lemak, namun kaya serat dan antioksidan. Dalam satu cangkir brokoli terdapat sekitar 39 kalori dan 2 gram serat, sementara kembang kol mengandung sekitar 28 kalori dengan jumlah serat yang sama. Artinya, keduanya sama-sama membantu pencernaan dan membuat kenyang lebih lama, cocok untuk menjaga berat badan.
“Brokoli adalah sumber nutrisi yang luar biasa. Sayuran ini kaya vitamin C, vitamin K, serat, dan antioksidan,” ujar Stephanie Crabtree, ahli gizi fungsional asal Florida.
Ia menambahkan, kandungan sulforaphane dalam brokoli berperan penting dalam mendukung detoksifikasi tubuh, kesehatan otak, serta membantu mengurangi peradangan. Nutrisi ini juga dikaitkan dengan penurunan risiko kanker selama brokoli tidak dimasak berlebihan.
Sementara itu, kembang kol tak kalah menarik.
“Kembang kol juga kaya serat dan antioksidan, serta menjadi salah satu sumber folat terbaik,” kata Lena Bakovic, ahli gizi terdaftar dari Live It Up.
Folat berperan penting dalam pembentukan sel darah merah dan kesehatan sel, terutama bagi ibu hamil. Selain itu, rasanya yang netral membuat kembang kol mudah diolah menjadi nasi alternatif, campuran daging, atau menu diet rendah karbohidrat.
Meski sehat, keduanya bisa memicu perut kembung jika dikonsumsi berlebihan, terutama bagi yang belum terbiasa makan tinggi serat. Brokoli juga mengandung vitamin K yang perlu diperhatikan oleh pengguna obat pengencer darah. Namun secara umum, keduanya aman dan bermanfaat bila dikonsumsi seimbang.
“Brokoli dan kembang kol sama-sama bergizi. Mengombinasikan keduanya dalam menu harian adalah pilihan terbaik,” ujar Bakovic. Jadi, tak perlu memilih salah satu. Variasi justru jadi kunci hidup sehat.
0 Komentar
Studi Ungkap Makanan Fermentasi Lebih Ampuh Sehatkan Usus daripada Tinggi Serat, Benarkah?
Mau Berat Badan Turun? Studi Harvard Ungkap Karbohidrat Terbaik dan Terburuk untuk Diet
Jangan Asal Ikut Diet Mediterania! Ahli Gizi Ungkap 6 Kesalahan yang Bisa Menggagalkan Hasilnya
7 Makanan Terbaik untuk Otak, Ahli Ungkap Rahasia Meningkatkan Daya Ingat dan Cegah Risiko Demensia
Sering Makan Daging Merah Setiap Hari? Ini Dampaknya pada Tekanan Darah Menurut Ahli
Wabah Infeksi Usus Cyclosporiasis Meningkat, Jangan Anggap Remeh Diare yang Tak Kunjung Sembuh
Pemanis Buatan Ternyata Tak Selalu Aman, 9 Dampak Mengejutkan yang Bisa Mengancam Kesehatan
Fakta Terbaru soal MSG Terungkap, Ternyata Micin Tak Seberbahaya yang Selama Ini Dipercaya
Leave a comment