Sahabat.com - Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Rutgers Health menemukan bahwa depresi pada ayah yang tidak terdiagnosis atau tidak ditangani dapat berdampak negatif terhadap perkembangan sosial dan perilaku anak hingga bertahun-tahun.
Temuan ini menyoroti pentingnya memperhatikan kesehatan mental ayah, bukan hanya ibu, dalam upaya menjaga kesejahteraan keluarga secara menyeluruh.
Penelitian yang dipublikasikan di American Journal of Preventive Medicine ini dilakukan oleh Kristine Schmitz, asisten profesor pediatri di Rutgers Robert Wood Johnson Medical School (RWJMS), bersama tim peneliti dari Princeton dan Rider University.
Studi ini menunjukkan bahwa anak-anak yang terpapar depresi ayah saat memasuki usia taman kanak-kanak lebih berisiko mengalami kesulitan perilaku dan keterampilan sosial saat mereka berusia 9 tahun.
“Kita perlu mempertimbangkan kondisi depresi pada kedua orang tua, bukan hanya ibu,” kata Schmitz.
“Depresi dapat diobati, dan demi mendukung keluarga secara menyeluruh, dokter anak harus mulai berdialog dengan para ayah dan mengembangkan intervensi yang difokuskan pada mereka.”
Data yang digunakan berasal dari Future of Families and Child Wellbeing Study (FFCWS), sebuah studi nasional yang melacak kehidupan keluarga yang memiliki anak kelahiran antara tahun 1998 hingga 2000. Studi ini menilai kondisi ayah saat anak berusia 5 tahun dan mengevaluasi perilaku anak melalui laporan guru ketika anak berusia 9 tahun.
Hasilnya, anak-anak yang ayahnya mengalami gejala depresi seperti merasa sedih atau tertekan saat anak berusia 5 tahun, cenderung menunjukkan perilaku seperti gelisah, suka melawan, marah, serta memiliki kerja sama dan rasa percaya diri yang rendah di usia 9 tahun.
Schmitz menjelaskan bahwa depresi dapat mengganggu kemampuan orang tua dalam memberikan dukungan emosional kepada anak serta menimbulkan konflik dalam rumah tangga. Penelitian ini adalah salah satu studi skala besar pertama di AS yang menunjukkan hubungan langsung antara depresi pada ayah dan perilaku anak di sekolah.
Meski demikian, Schmitz menekankan bahwa ada harapan. Dengan deteksi dan penanganan dini, kesejahteraan ayah dan anak bisa ditingkatkan.
“Sebagai orang tua, kita bisa menjadi contoh bahwa ketika kita sedang kesulitan, kita mencari bantuan. Itu adalah pelajaran berharga yang akan dibawa anak seumur hidupnya,” tutupnya.
0 Komentar
Pria 50+ Wajib Tahu! 5 Tes Jantung Ini Bisa Cegah Serangan Jantung Sebelum Terlambat
Bella Hadid Ngaku Merasa ‘Tak Berharga’ Saat Tolak Semua Pekerjaan Demi Lawan Lyme Disease
Masih Perkasa di Atas 50? Rahasia Kehidupan Intim Pria Tetap Bergairah
Telat Haid di Usia 40-an? Jangan Panik! Ini Cara Bedakan Gejala Menopause dan Hamil
Sayuran Aneh Ini Ternyata Rahasia Sehat Usus, Kaya Prebiotik dan Bikin Kenyang Lebih Lama!
Tekanan Darah Tinggi Bisa Turun Alami, Ini Daftar Makanan Sehari-hari yang Direkomendasikan Ahli
Minum Vitamin Ini Disebut Bisa Bikin Umur Lebih Panjang, Benarkah?
Leave a comment