Sahabat.com - Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi salah satu masalah kesehatan paling umum di dunia, termasuk di Indonesia. Banyak orang tidak menyadari dirinya mengidap kondisi ini karena sering kali tidak menimbulkan keluhan. Padahal jika dibiarkan, hipertensi dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, hingga gangguan ginjal. Kabar baiknya, kondisi ini sangat bisa dikendalikan dengan perubahan gaya hidup dan penggunaan obat yang tepat.
Tekanan darah sendiri adalah kekuatan aliran darah yang menekan dinding pembuluh darah. Saat tekanannya terus tinggi, pembuluh darah dan organ vital bisa mengalami kerusakan. Karena itu, dokter biasanya meresepkan obat untuk menurunkan tekanan darah, menjaga kesehatan jantung, dan meningkatkan kualitas hidup jangka panjang. Menurut SaveHealth, banyak pasien bahkan membutuhkan lebih dari satu jenis obat agar tekanan darah tetap stabil.
Beberapa obat hipertensi yang paling sering digunakan antara lain lisinopril, losartan, amlodipine, valsartan, hydrochlorothiazide, atenolol, metoprolol, carvedilol, chlorthalidone, dan nebivolol. Obat-obatan ini bekerja dengan cara berbeda, mulai dari melemaskan pembuluh darah, memperlambat denyut jantung, hingga membantu ginjal membuang kelebihan garam dan cairan dari tubuh. Karena mekanismenya berbeda, dokter kerap mengombinasikan dua atau lebih obat untuk hasil yang optimal.
ACE inhibitor dan ARB sering menjadi pilihan awal karena efektif dan relatif aman untuk penggunaan jangka panjang, terutama pada pasien dengan diabetes atau gangguan ginjal. Calcium channel blocker banyak dipilih karena cocok untuk berbagai usia, sementara beta blocker umumnya diresepkan bila hipertensi disertai gangguan jantung. Diuretik juga populer karena membantu menurunkan volume darah dengan cepat.
SaveHealth menyebutkan bahwa pemilihan obat selalu disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, hingga respons tubuh pasien. “Tidak ada satu obat yang cocok untuk semua orang. Kombinasi terapi sering kali menjadi kunci keberhasilan pengendalian tekanan darah,” tulis SaveHealth dalam laporannya.
Meski aman, obat darah tinggi bisa menimbulkan efek samping seperti pusing, sering buang air kecil, kaki bengkak, atau rasa lelah. Karena itu, penggunaan obat harus rutin dipantau dokter. Dengan pengobatan yang tepat dan gaya hidup sehat, hipertensi bukan lagi momok yang menakutkan.
0 Komentar
Bella Hadid Ngaku Merasa ‘Tak Berharga’ Saat Tolak Semua Pekerjaan Demi Lawan Lyme Disease
Masih Perkasa di Atas 50? Rahasia Kehidupan Intim Pria Tetap Bergairah
Telat Haid di Usia 40-an? Jangan Panik! Ini Cara Bedakan Gejala Menopause dan Hamil
Sayuran Aneh Ini Ternyata Rahasia Sehat Usus, Kaya Prebiotik dan Bikin Kenyang Lebih Lama!
Tekanan Darah Tinggi Bisa Turun Alami, Ini Daftar Makanan Sehari-hari yang Direkomendasikan Ahli
Minum Vitamin Ini Disebut Bisa Bikin Umur Lebih Panjang, Benarkah?
Leave a comment