Kasus Tetanus Kembali Naik, Penyakit Mematikan yang Bisa Dicegah Ini Diam-Diam Mengintai

18 Juni 2026 17:20
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Ilustrasi seseorang memasang plester pada lengan dengan latar bakteri penyebab tetanus.

Sahabat.com - Tetanus mungkin bukan penyakit yang sering menjadi perhatian banyak orang. Namun, para ahli kesehatan kini mengingatkan bahwa penyakit infeksi bakteri yang sangat berbahaya ini kembali menunjukkan peningkatan kasus, meski sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi.

Data terbaru menunjukkan kasus tetanus di Amerika Serikat meningkat dari 18 kasus pada 2023 menjadi 33 kasus pada 2025. Angka tersebut memang masih tergolong rendah, tetapi cukup mengkhawatirkan bagi para pakar kesehatan karena tren kenaikannya terus dipantau.

Tetanus disebabkan oleh bakteri *Clostridium tetani* yang banyak ditemukan di lingkungan, terutama tanah, kotoran hewan, dan permukaan berkarat. Bakteri ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka, goresan, atau cedera pada kulit. Setelah masuk, bakteri menghasilkan racun yang menyerang sistem saraf dan memicu gejala serius.

Gejala tetanus biasanya muncul dalam rentang tiga hingga 21 hari setelah terpapar. Kondisi ini ditandai dengan rahang kaku atau *lockjaw*, kesulitan menelan, kejang otot yang menyakitkan, sakit kepala, demam, hingga perubahan tekanan darah dan detak jantung. Dalam kasus berat, tetanus dapat menyebabkan gangguan pernapasan, pneumonia, emboli paru, bahkan kematian.

“Tetanus sangat menyakitkan dan jika tidak segera ditangani dapat berakibat fatal,” kata Jon Andrus, Profesor Kesehatan Global di George Washington University Milken Institute School of Public Health.

Peneliti vaksinologi dari Vanderbilt University Medical Center, Dr. Kathryn Edwards, menjelaskan bahwa bakteri penyebab tetanus akan selalu ada di lingkungan sekitar. “Bakteri ini berada di tanah dan akan selalu ada,” ujarnya.

Para ahli menilai meningkatnya keraguan masyarakat terhadap vaksin menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan kasus. Bahkan, beberapa kasus terbaru ditemukan pada anak-anak yang belum mendapatkan vaksin tetanus.

Karena itu, vaksinasi tetap menjadi langkah perlindungan paling efektif. Ahli penyakit infeksi Dr. John Sellick menegaskan bahwa vaksin adalah kunci utama pencegahan tetanus. Selain mengikuti jadwal imunisasi, seseorang yang mengalami luka serius juga disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk menentukan kebutuhan vaksin darurat.

“Jika kita berhenti melindungi diri dan anak-anak dari penyakit lama seperti ini, penyakit tersebut bisa kembali muncul,” tegas Dr. Andrus.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment