Misteri Havana Syndrome Terungkap? Ini Fakta Gangguan Neurologis yang Pernah Bikin Geger Dunia

17 Juli 2026 11:50
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Ilustrasi seorang pria mengalami sakit kepala dan gangguan konsentrasi, gejala yang kerap dikaitkan dengan Havana Syndrome.

Sahabat.com - Havana Syndrome menjadi salah satu fenomena kesehatan paling misterius dalam satu dekade terakhir. Kondisi ini pertama kali dilaporkan menyerang staf Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Kanada di Havana, Kuba, pada 2016. Para penderita mengalami berbagai gangguan neurologis yang muncul secara tiba-tiba, mulai dari sakit kepala, telinga berdenging (tinnitus), pusing, mual, kebingungan, sulit berkonsentrasi, hingga gangguan keseimbangan.

Tak hanya di Kuba, kasus serupa juga dilaporkan terjadi pada sejumlah personel diplomatik dan intelijen Amerika Serikat yang bertugas di negara lain, seperti China, Rusia, bahkan di wilayah Amerika Serikat sendiri. Banyak korban mengaku mendengar suara aneh sesaat sebelum gejala muncul, sehingga sempat memunculkan dugaan adanya serangan menggunakan teknologi gelombang radio atau perangkat sonik.

Namun, laporan resmi pemerintah Amerika Serikat pada 2025 menyebutkan bahwa sangat kecil kemungkinan gejala tersebut disebabkan oleh senjata baru atau serangan dari pihak asing. Hingga kini belum ada bukti ilmiah yang diterima secara luas mengenai penyebab pasti Havana Syndrome.

Menurut Associate Chief Medical Officer Michigan State University, Dr. Amit Sachdev, tantangan terbesar dalam menangani Havana Syndrome adalah belum diketahuinya penyebab kondisi tersebut. "Gejala Havana Syndrome sangat mirip dengan gegar otak. Karena itu, pilihan pengobatannya masih terbatas pada sejumlah terapi dan obat-obatan yang terus dievaluasi hingga ditemukan pendekatan terbaik," ujarnya.

Senada dengan itu, dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan dari Providence Saint John's Health Center, Dr. Omid Mehdizadeh, mengatakan belum ada cara yang terbukti efektif untuk mencegah Havana Syndrome. "Dokter bahkan belum mengetahui apa yang menyebabkan penyakit ini, sehingga belum ada langkah pencegahan yang pasti," jelasnya.

Sejumlah penelitian memang menemukan adanya perbedaan struktur otak pada sebagian penderita dibandingkan orang yang tidak mengalami Havana Syndrome. Namun, para peneliti menegaskan bahwa hubungan temuan tersebut dengan penyebab penyakit masih belum dapat dipastikan.

Meski kasus Havana Syndrome tergolong sangat jarang terjadi pada masyarakat umum, para ahli mengingatkan agar siapa pun yang mengalami gejala neurologis seperti sakit kepala berkepanjangan, gangguan konsentrasi, telinga berdenging, atau kehilangan keseimbangan segera memeriksakan diri ke tenaga medis. Pemeriksaan dini penting untuk mengetahui penyebab sebenarnya dan mendapatkan penanganan yang tepat.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment