Sahabat.com - Banyak orang tua mendambakan bayi yang bisa tidur sepanjang malam tanpa sering terbangun. Salah satu cara yang kerap diterapkan adalah sleep training, yaitu proses mengajarkan bayi untuk tertidur dan kembali tidur secara mandiri tanpa harus selalu digendong atau ditenangkan oleh orang tua.
Namun, para pakar menegaskan bahwa sleep training tidak boleh dilakukan terlalu dini. Pada bulan-bulan pertama kehidupan, ritme sirkadian atau jam biologis bayi masih berkembang sehingga pola tidur mereka belum stabil.
"Upaya agar bayi tidur sepanjang malam sebaiknya dilakukan setelah ritme sirkadian berkembang secara alami," kata Wendy Middlemiss, Profesor Emeritus Psikologi Pendidikan dari University of North Texas.
Menurut spesialis kesehatan tidur sekaligus CEO The Solution is Sleep, Angela Holliday-Bell, sebagian besar bayi mulai siap menjalani sleep training pada usia 4 hingga 6 bulan. Pada usia sekitar 4 bulan dengan berat badan sekitar 6,3 kilogram atau 14 pon, bayi umumnya sudah memiliki cadangan energi yang cukup sehingga tidak lagi membutuhkan menyusu terus-menerus di malam hari. Selain itu, perkembangan sarafnya juga mulai memungkinkan bayi belajar menenangkan diri saat terbangun.
Salah satu metode yang cukup populer adalah aturan 5/3/3. Dalam metode ini, bayi diharapkan tidur setidaknya lima jam setelah pertama kali tertidur, kemudian menyusu, lalu kembali tidur selama tiga jam dan dilanjutkan tidur tiga jam berikutnya. Meski demikian, Middlemiss mengingatkan bahwa pola tersebut tidak selalu cocok untuk semua bayi dan umumnya diterapkan pada usia sekitar 6 bulan.
Holliday-Bell menekankan bahwa tujuan utama sleep training bukanlah membuat bayi tidak pernah terbangun pada malam hari. "Tujuannya adalah membantu bayi belajar kembali tidur sendiri ketika mereka terbangun," ujarnya.
Ia menyarankan orang tua mulai mengurangi kebiasaan yang membuat bayi bergantung pada kehadiran orang tua saat tidur, seperti mengayun, menyanyikan lagu, atau menggendong setiap kali bayi terbangun. Yang paling penting adalah menerapkan rutinitas secara konsisten.
Para ahli juga mengingatkan agar keamanan tidur bayi tetap menjadi prioritas. Risiko Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) masih ada hingga usia satu tahun, dengan risiko tertinggi pada usia 4 hingga 6 bulan. Karena itu, pastikan area tidur bayi bebas dari bantal, selimut tebal, boneka, atau benda lain yang dapat mengganggu pernapasan, serta hindari posisi tidur yang membuat wajah bayi tertutup.
0 Komentar
Studi Ungkap Makanan Fermentasi Lebih Ampuh Sehatkan Usus daripada Tinggi Serat, Benarkah?
Kapan Bayi Boleh Sleep Training? Pakar Ungkap Usia Ideal dan Cara Aman agar Tidur Nyenyak
Jangan Anggap Sepele! Cepat Lelah Meski Tidur Cukup Bisa Jadi Tanda Tubuh Kekurangan Zat Besi
Pakar Gizi Ungkap Jam Makan Malam Terbaik, Bisa Bantu Turunkan Berat Badan dan Tidur Lebih Nyenyak
Jangan Anggap Sepele Diare Berair, Bisa Jadi Gejala Cyclosporiasis yang Sedang Merebak
5 Jenis Kanker Paling Mematikan pada Pria dan Wanita, Kanker Paru Masih Jadi Pembunuh Nomor Satu
Leave a comment