Sahabat.com - Diare berair yang berlangsung selama beberapa hari jangan langsung dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda cyclosporiasis, infeksi usus yang disebabkan oleh parasit Cyclospora cayetanensis dan umumnya menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Kasus cyclosporiasis kembali menjadi perhatian setelah Departemen Kesehatan Masyarakat Colorado melaporkan sekitar 150 kasus hingga pertengahan Juli 2026. Sebagian besar kasus diketahui berkaitan dengan paparan dari luar negeri, meski belum ditemukan hubungan dengan wabah yang menyerang ribuan orang di wilayah Midwest, Amerika Serikat.
Pakar kesehatan mengingatkan bahwa siapa pun yang mengalami gejala mencurigakan sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Diagnosis infeksi Cyclospora hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan sampel feses di laboratorium.
Hasil pemeriksaan tersebut juga membantu otoritas kesehatan melacak sumber penularan dan mencegah penyebaran yang lebih luas melalui investigasi terhadap pasien yang terkonfirmasi positif.
Gejala cyclosporiasis umumnya muncul dalam bentuk diare berair yang hebat, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, kram perut, perut kembung, mual, kelelahan, hingga produksi gas berlebihan. Pada beberapa kasus, penderita juga dapat mengalami muntah, sakit kepala, nyeri otot, demam ringan, serta keluhan yang menyerupai flu.
Pada orang dengan kondisi kesehatan yang baik, infeksi ini memang dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, gejalanya bisa berlangsung selama beberapa minggu sehingga tetap memerlukan penanganan medis untuk mencegah komplikasi.
Menurut rekomendasi Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pengobatan utama untuk cyclosporiasis menggunakan antibiotik trimethoprim-sulfamethoxazole (TMP-SMX) yang juga dikenal dengan nama dagang Bactrim, Septra, atau Cotrim. Obat tersebut hanya boleh digunakan sesuai anjuran dokter.
Selama masa pemulihan, penderita dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih atau minuman yang mengandung elektrolit untuk mencegah dehidrasi akibat diare. Pada kasus yang lebih berat, terutama jika tubuh kehilangan banyak cairan, pasien mungkin memerlukan perawatan di rumah sakit untuk mendapatkan cairan infus.
Selain menjaga kebersihan makanan dan mencuci bahan pangan sebelum dikonsumsi, masyarakat juga diimbau tidak mengabaikan diare yang berlangsung berkepanjangan. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu memastikan penyebab penyakit sekaligus mempercepat penanganan yang tepat.
0 Komentar
Studi Ungkap Makanan Fermentasi Lebih Ampuh Sehatkan Usus daripada Tinggi Serat, Benarkah?
Kapan Bayi Boleh Sleep Training? Pakar Ungkap Usia Ideal dan Cara Aman agar Tidur Nyenyak
Jangan Anggap Sepele! Cepat Lelah Meski Tidur Cukup Bisa Jadi Tanda Tubuh Kekurangan Zat Besi
Pakar Gizi Ungkap Jam Makan Malam Terbaik, Bisa Bantu Turunkan Berat Badan dan Tidur Lebih Nyenyak
Jangan Anggap Sepele Diare Berair, Bisa Jadi Gejala Cyclosporiasis yang Sedang Merebak
5 Jenis Kanker Paling Mematikan pada Pria dan Wanita, Kanker Paru Masih Jadi Pembunuh Nomor Satu
Leave a comment