Sahabat.com - Sering merasa lelah meski sudah tidur selama delapan jam? Jangan buru-buru menyalahkan jadwal kerja yang padat atau kurang istirahat. Kondisi tersebut bisa menjadi salah satu tanda tubuh mengalami kekurangan zat besi, nutrisi penting yang berperan membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh.
Kekurangan zat besi merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi di berbagai belahan dunia. Kondisi ini muncul ketika tubuh tidak memiliki cukup zat besi untuk memproduksi hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen. Jika dibiarkan, kekurangan zat besi dapat berkembang menjadi anemia, meski seseorang bisa saja sudah merasakan berbagai gejala sebelum anemia benar-benar terjadi.
Ahli gizi terdaftar Yasi Ansari menjelaskan bahwa kelompok yang paling berisiko mengalami kekurangan zat besi adalah perempuan yang mengalami menstruasi, remaja, anak-anak, hingga ibu hamil. Kondisi ini juga dapat dipicu oleh perdarahan saluran cerna, gangguan penyerapan zat besi, atau pola makan yang kurang memenuhi kebutuhan harian.
Salah satu gejala paling umum adalah rasa lelah berkepanjangan yang tidak kunjung hilang meski sudah beristirahat. "Banyak orang yang mengeluhkan tubuh terasa lesu ternyata mengalami gejala tersebut karena cadangan zat besi yang tidak mencukupi," ujar ahli gizi Vanessa Keir.
Selain mudah lelah, tubuh juga bisa memberikan sinyal lain seperti pusing saat berdiri, jantung berdebar, napas terasa pendek ketika beraktivitas, hingga rambut rontok lebih banyak dari biasanya. Menurut ahli gizi Christina Badaracco, kekurangan zat besi membuat tubuh kesulitan menghasilkan hemoglobin yang cukup untuk mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh, termasuk ke folikel rambut. "Oksigen dibutuhkan untuk memperbaiki kerusakan sel, termasuk sel yang berperan dalam pertumbuhan rambut," katanya.
Gejala lain yang cukup unik adalah munculnya keinginan mengunyah es batu atau bahkan benda yang bukan makanan seperti kapur dan tanah. Kondisi yang dikenal sebagai pica ini sering dikaitkan dengan rendahnya kadar zat besi dan umumnya akan membaik setelah kadar zat besi kembali normal. Sebagian orang juga mengalami sindrom kaki gelisah (restless legs syndrome), terutama pada malam hari, yang dapat mengganggu kualitas tidur.
Jika keluhan seperti mudah lelah, sesak napas, sering mengunyah es batu, atau kaki terasa tidak nyaman terus berlanjut, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan darah dapat membantu mengetahui kadar hemoglobin serta ferritin, yaitu indikator cadangan zat besi dalam tubuh yang tidak selalu diperiksa dalam tes darah rutin.
Untuk menjaga kadar zat besi tetap optimal, pola makan menjadi langkah pertama yang dianjurkan. Sumber zat besi heme yang lebih mudah diserap tubuh dapat diperoleh dari daging merah, unggas, ikan, dan makanan laut. Sementara itu, zat besi non-heme tersedia dalam kacang-kacangan, lentil, tahu, bayam, biji labu, dan sereal yang difortifikasi zat besi. Penyerapan zat besi dari sumber nabati akan lebih maksimal jika dikonsumsi bersama makanan kaya vitamin C, seperti jeruk atau paprika.
Suplemen zat besi juga dapat membantu pada kondisi tertentu, tetapi penggunaannya tidak boleh sembarangan. Konsumsi suplemen sebaiknya berdasarkan hasil pemeriksaan dan rekomendasi dokter, karena kelebihan zat besi juga dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Mengetahui penyebab utama kekurangan zat besi juga penting agar penanganan yang diberikan benar-benar sesuai.
0 Komentar
Studi Ungkap Makanan Fermentasi Lebih Ampuh Sehatkan Usus daripada Tinggi Serat, Benarkah?
Kapan Bayi Boleh Sleep Training? Pakar Ungkap Usia Ideal dan Cara Aman agar Tidur Nyenyak
Jangan Anggap Sepele! Cepat Lelah Meski Tidur Cukup Bisa Jadi Tanda Tubuh Kekurangan Zat Besi
Pakar Gizi Ungkap Jam Makan Malam Terbaik, Bisa Bantu Turunkan Berat Badan dan Tidur Lebih Nyenyak
Jangan Anggap Sepele Diare Berair, Bisa Jadi Gejala Cyclosporiasis yang Sedang Merebak
5 Jenis Kanker Paling Mematikan pada Pria dan Wanita, Kanker Paru Masih Jadi Pembunuh Nomor Satu
Leave a comment