Sahabat.com - Tubuh berkeringat saat cuaca panas atau setelah berolahraga adalah hal yang normal. Namun, jika Anda merasa lebih mudah berkeringat setelah memasuki usia 50 tahun, kondisi tersebut bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perubahan hormon hingga masalah kesehatan tertentu.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi sekaligus pakar pengobatan regeneratif, Dr. Anna Cabeca, menjelaskan bahwa keringat merupakan sistem pendingin alami tubuh. "Saat suhu inti tubuh meningkat karena cuaca, aktivitas fisik, atau bahkan stres emosional, sistem saraf akan memerintahkan kelenjar keringat melepaskan cairan ke permukaan kulit. Saat menguap, cairan tersebut membantu menurunkan suhu tubuh dan mencegah tubuh mengalami panas berlebih," jelasnya.
Meski berkeringat setiap hari tergolong normal, dokter Carol Eisenstat mengingatkan bahwa produksi keringat yang berlebihan atau hiperhidrosis perlu mendapat perhatian. "Jika Anda sampai harus berganti pakaian karena keringat berlebih atau berkeringat tanpa dipicu cuaca panas maupun aktivitas fisik, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter," ujarnya.
Menurut para ahli, penyebab keringat berlebih sangat beragam. Gangguan tiroid, stres dan kecemasan, gula darah rendah, infeksi, efek samping obat-obatan tertentu, obesitas, diabetes, hingga penyakit autoimun dapat menjadi pemicunya. Pada wanita, perubahan hormon menjelang menopause dan menopause menjadi salah satu penyebab paling umum. Penurunan kadar estrogen memengaruhi pusat pengatur suhu tubuh di otak sehingga memicu hot flashes dan episode berkeringat berlebihan.
Dr. Cabeca juga menjelaskan bahwa faktor genetik berperan dalam menentukan seberapa mudah seseorang berkeringat. "Sebagian orang memang memiliki kelenjar keringat yang lebih aktif atau sistem saraf yang lebih responsif terhadap stres. Itu merupakan bagian dari karakteristik tubuh masing-masing," katanya.
Penanganan keringat berlebih harus disesuaikan dengan penyebabnya. Jika dipicu oleh stres, fokus utama bukan hanya menghentikan keringat, tetapi juga menenangkan sistem saraf. Sementara jika penyebabnya berkaitan dengan penyakit tiroid, diabetes, atau menopause, maka kondisi tersebut perlu ditangani terlebih dahulu. Dokter juga dapat merekomendasikan antiperspiran khusus, terapi Botox, iontophoresis, hingga obat-obatan tertentu sesuai kebutuhan pasien.
Selain pengobatan medis, perubahan gaya hidup juga dapat membantu mengurangi produksi keringat. Dr. Cabeca menyarankan latihan pernapasan dalam, meditasi, berdoa, menghabiskan waktu di alam, hingga memperbaiki pola tidur untuk membantu menenangkan sistem saraf. Mengelola stres melalui journaling, terapi, mengatur waktu dengan baik, serta mengonsumsi makanan bergizi juga dinilai dapat membantu tubuh lebih tahan terhadap tekanan sehari-hari.
Meski demikian, jangan abaikan jika keringat berlebih muncul secara tiba-tiba, terutama pada malam hari, atau disertai demam, nyeri dada, sesak napas, maupun penurunan berat badan tanpa sebab. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.
0 Komentar
Buah Terbaik yang Wajib Dikonsumsi Saat Musim Panas, Segar, Murah, dan Penuh Nutrisi!
Misteri Havana Syndrome Terungkap? Ini Fakta Gangguan Neurologis yang Pernah Bikin Geger Dunia
Jangan Remehkan Omega-3! Ini 5 Manfaat Luar Biasa untuk Jantung, Otak, hingga Kesehatan Mental
Bukan Kopi! Ahli Gizi Ungkap Sarapan yang Bikin Energi Stabil Seharian Tanpa Mudah Lemas
Studi Ungkap Makanan Fermentasi Lebih Ampuh Sehatkan Usus daripada Tinggi Serat, Benarkah?
Leave a comment