Penelitian Terbaru Ungkap Manfaat Tak Terduga Tertawa bagi Otak Anak, Bisa Tingkatkan Kecerdasan dan Daya Tahan Mental

08 Juni 2026 12:00
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Momen bermain dan tertawa bersama keluarga dapat membantu perkembangan otak anak sekaligus memperkuat ikatan emosional.

Sahabat.com - Tertawa selama ini dikenal sebagai obat terbaik untuk menjaga suasana hati. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa manfaatnya jauh lebih besar, terutama bagi perkembangan otak anak. Para ilmuwan menemukan bahwa tawa dan permainan yang menyenangkan dapat membantu membangun kemampuan belajar, kesehatan emosional, serta hubungan sosial yang lebih kuat sejak usia dini.

Pakar perkembangan anak dari Middlesex University London, Jacqueline Harding, Ph.D., menjelaskan bahwa kegembiraan bukan hanya perasaan sesaat, melainkan proses biologis yang kompleks. Dalam bukunya, *The Brain That Loves to Laugh*, Harding menyebut bahwa tawa membantu anak menghadapi tekanan hidup sekaligus membangun pola pikir yang lebih tangguh dan terbuka terhadap pembelajaran.

“Ketika kita melihat anak-anak tertawa, kita sedang menyaksikan kecemerlangan otak yang bekerja, belajar, terhubung, dan berkembang,” ujar Harding.

Menurutnya, harapan dan humor bukan sekadar pelengkap kehidupan, tetapi fondasi penting bagi tumbuh kembang yang sehat.

Para peneliti menemukan bahwa tertawa mengaktifkan berbagai jaringan penting di otak, termasuk area yang berhubungan dengan kreativitas, memori kerja, dan kemampuan memecahkan masalah. Karena itu, tawa sering disebut sebagai “latihan mental” yang membantu otak bekerja lebih optimal.

Tak hanya itu, tertawa juga memengaruhi kondisi tubuh secara langsung. Aktivitas ini mampu menurunkan hormon stres seperti kortisol dan epinefrin, sekaligus meningkatkan produksi hormon kebahagiaan seperti dopamin, serotonin, dan endorfin. Bahkan, tawa juga diketahui meningkatkan kadar oksitosin yang berperan dalam mempererat ikatan emosional antara orang tua dan anak.

Sebaliknya, stres berkepanjangan dapat mengganggu proses belajar, melemahkan sistem kekebalan tubuh, serta memengaruhi perkembangan area otak yang mengatur emosi dan memori jangka panjang.

Harding menekankan pentingnya menciptakan momen bermain yang spontan dan menyenangkan di rumah maupun sekolah. “Permainan yang spontan dan penuh kegembiraan merupakan penawar stres karena meningkatkan pelepasan endorfin oleh otak,” katanya.

Ia juga mendorong agar humor lebih banyak dihadirkan dalam proses belajar mengajar. Menurut Harding, lingkungan yang aman, penuh dukungan, dan bebas tekanan akan membantu anak menyerap informasi dengan lebih baik. “Hubungan yang aman dan lingkungan bermain yang tidak menimbulkan stres mendorong proses belajar. Kurikulum tidak boleh lebih diprioritaskan daripada dua faktor mendasar tersebut,” tegasnya.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment