Sahabat.com - Banyak wanita mengenal menopause sebagai fase berhentinya menstruasi secara permanen. Namun sebelum itu terjadi, ada tahap panjang yang sering luput dari perhatian, yaitu perimenopause. Fase ini menjadi masa transisi tubuh sebelum menopause dan dapat berlangsung selama bertahun-tahun dengan berbagai perubahan fisik maupun emosional.
Direktur medis Women’s Comprehensive Health and Research Center Cleveland Clinic, Dr. Pelin Batur menjelaskan bahwa perimenopause adalah masa ketika tubuh perlahan meninggalkan fase reproduksi. Kondisi ini umumnya mulai muncul di usia 40-an, tetapi sebagian wanita bahkan bisa mengalami gejalanya sejak usia 30-an.
Perubahan hormon selama perimenopause memicu berbagai gejala yang sering dianggap sepele. Mulai dari siklus haid yang tidak teratur, hot flashes atau sensasi panas mendadak, keringat malam, sulit tidur, tubuh mudah lelah, hingga perubahan suasana hati seperti cemas dan mudah marah. Tak sedikit wanita juga mengalami brain fog atau sulit fokus, penurunan gairah seksual, serta rasa tidak nyaman saat berhubungan intim.
Associate Director of Women’s Health Mayo Clinic, Dr. Jewel Kling mengatakan menopause baru dinyatakan setelah seorang wanita tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Namun gejala perimenopause bisa muncul jauh sebelumnya dan berlangsung rata-rata empat tahun, bahkan hingga satu dekade.
Menurut bidan bersertifikat dari Inspira Medical Group, Tina Colella, kondisi ini terjadi karena jumlah sel telur dalam ovarium terus berkurang seiring bertambahnya usia. Akibatnya, produksi hormon estrogen dan progesteron ikut menurun dan memicu berbagai perubahan pada tubuh.
Beberapa faktor juga disebut dapat mempercepat datangnya perimenopause, seperti faktor genetik, kebiasaan merokok, gaya hidup tidak sehat, hingga pengobatan tertentu seperti kemoterapi atau operasi pengangkatan ovarium.
Meski tidak bisa dihentikan, gejala perimenopause tetap dapat dikendalikan. Terapi hormon menjadi salah satu pilihan yang efektif untuk mengurangi hot flashes dan gangguan tidur. Selain itu, pola hidup sehat seperti rutin olahraga, tidur cukup, mengurangi konsumsi alkohol dan kafein, serta mengelola stres juga membantu menjaga kualitas hidup wanita selama fase ini.
“Karena perimenopause memengaruhi setiap wanita secara berbeda, pilihan pengobatan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien,” ujar Dr. Pelin Batur.
0 Komentar
Bella Hadid Ungkap Perjuangan Melawan Penyakit Kronis, Sempat Merasa Kehilangan Harapan
Mentega atau Margarin, Mana yang Lebih Sehat? Jawabannya Ternyata Tidak Sesederhana Itu
Bukan Cuma Jalan Kaki, Latihan Angkat Beban Disebut Rahasia Awet Muda di Usia 60 Tahun ke Atas
Makanan Tinggi Serat yang Diam-Diam Menjaga Jantung Tetap Sehat
Kebiasaan Berani Setelah Usia 50 Tahun yang Bisa Membuat Hidup Lebih Sehat dan Bahagia
Sering Terbangun Jam 3 Pagi? Ternyata Ini Tanda Perimenopause yang Kerap Diabaikan Banyak Wanita
Tidak Perlu 10.000 Langkah Sehari, Ini Jumlah Jalan Kaki yang Lebih Tepat Menurut Ahli
Leave a comment