Sahabat.com - Sebuah studi terbaru dari Cleveland Clinic yang belum melalui proses tinjauan sejawat memicu keraguan di tengah masyarakat terhadap efektivitas vaksin flu musim 2024-2025.
Penelitian yang melibatkan sekitar 53.000 tenaga kesehatan itu menemukan bahwa individu yang telah divaksinasi mengalami peningkatan risiko tertular flu sebesar 27 persen dibandingkan mereka yang tidak divaksinasi.
Hasil sementara ini memicu kegelisahan publik, bahkan menjadi bahan narasi kelompok antivaksin yang menyebut vaksin flu justru bisa menyebabkan penyakit tersebut. Namun, para pakar medis menegaskan bahwa vaksin flu tidak menyebabkan influenza karena hanya mengandung virus yang tidak aktif.
“Vaksin flu tidak mengandung virus hidup, sehingga tidak mungkin menyebabkan infeksi,” tegas Dr. Geeta Sood, ahli epidemiologi dari Johns Hopkins Bayview Medical Center.
Bias Pengujian Diduga Pengaruhi Hasil
Penelitian ini memang menemukan tingkat infeksi yang lebih tinggi pada kelompok yang menerima vaksin. Namun, para ahli menyebut adanya dua keterbatasan utama yang dapat memengaruhi validitas temuan tersebut.
Pertama, studi ini masih dalam bentuk preprint dan belum ditinjau sejawat, yang berarti kesimpulan akhir masih bisa berubah. Kedua, ada potensi bias dalam pengujian, di mana orang yang telah divaksin lebih cenderung melakukan tes ketika mengalami gejala flu, dibandingkan dengan mereka yang tidak divaksinasi.
Dr. Jeffrey S. Morris, pakar biostatistik dari Perelman School of Medicine, mengungkapkan bahwa individu yang divaksin 27% lebih mungkin menjalani tes flu daripada yang tidak divaksin. Hal ini membuat data hasil tes menjadi tidak seimbang dan sulit diinterpretasikan secara akurat.
Vaksin Tetap Direkomendasikan
Meskipun hasil awal studi ini terkesan mengecewakan, para ahli tetap menyarankan masyarakat untuk mendapatkan vaksin flu. Menurut Dr. Shira Doron dari Tufts Medical Center, vaksin flu bertujuan utama untuk mencegah kasus berat dan kematian, bukan semata-mata untuk mencegah infeksi.
“Orang tanpa faktor risiko pun bisa meninggal akibat flu. Vaksinasi sangat penting untuk mencegah kasus berat,” ujarnya.
Cleveland Clinic pun menambahkan bahwa studi tersebut hanya fokus pada angka infeksi, tanpa menilai seberapa besar vaksin mencegah gejala berat atau rawat inap—dua aspek yang selama ini terbukti secara historis dapat dicegah oleh vaksin flu.
Masyarakat diimbau untuk tidak menyimpulkan secara sepihak bahwa vaksin flu menyebabkan penyakit. Para ahli tetap sepakat bahwa vaksinasi adalah langkah penting dalam upaya pencegahan penyakit yang lebih serius, terutama bagi kelompok rentan.
0 Komentar
Pria 50+ Wajib Tahu! 5 Tes Jantung Ini Bisa Cegah Serangan Jantung Sebelum Terlambat
Bella Hadid Ngaku Merasa ‘Tak Berharga’ Saat Tolak Semua Pekerjaan Demi Lawan Lyme Disease
Masih Perkasa di Atas 50? Rahasia Kehidupan Intim Pria Tetap Bergairah
Telat Haid di Usia 40-an? Jangan Panik! Ini Cara Bedakan Gejala Menopause dan Hamil
Sayuran Aneh Ini Ternyata Rahasia Sehat Usus, Kaya Prebiotik dan Bikin Kenyang Lebih Lama!
Tekanan Darah Tinggi Bisa Turun Alami, Ini Daftar Makanan Sehari-hari yang Direkomendasikan Ahli
Minum Vitamin Ini Disebut Bisa Bikin Umur Lebih Panjang, Benarkah?
Leave a comment