Vitamin D Ternyata Tidak Bisa Sembarangan Diandalkan, Studi Ungkap Fakta Baru untuk Penyakit Rematik

12 Juni 2026 17:28
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Ilustrasi suplemen vitamin D dan paparan sinar matahari yang berkaitan dengan kesehatan tulang serta sistem kekebalan tubuh.

Sahabat.com - Selama ini vitamin D dikenal sebagai salah satu nutrisi penting yang dipercaya mampu membantu menjaga kesehatan tubuh, memperkuat tulang, dan mendukung sistem kekebalan. Namun, penelitian terbaru menemukan bahwa manfaat vitamin D mungkin tidak sebesar yang selama ini banyak diyakini, terutama bagi penderita penyakit rematik inflamasi.

Sebuah ulasan ilmiah dari International Osteoporosis Foundation (IOF) Osteoimmunology Working Group yang diterbitkan dalam jurnal *Osteoporosis International* mengevaluasi hubungan vitamin D dengan berbagai penyakit rematik, seperti rheumatoid arthritis, lupus, psoriasis arthritis, hingga sindrom Sjögren.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekurangan vitamin D memang sering ditemukan pada pasien dengan penyakit rematik inflamasi. Sekitar 40 hingga 80 persen pasien diketahui memiliki kadar vitamin D yang rendah. Kondisi ini berkaitan dengan tingkat nyeri yang lebih tinggi, kelelahan, aktivitas penyakit yang meningkat, serta gangguan kesehatan tulang dan otot.

Meski begitu, para peneliti menemukan bahwa konsumsi suplemen vitamin D belum terbukti dapat secara langsung mengubah perjalanan penyakit atau mencegah penyakit tersebut berkembang.

“Vitamin D tetap menjadi bagian penting dalam perawatan menyeluruh pasien dengan penyakit rematik inflamasi, terutama untuk kesehatan tulang dan otot. Namun, bukti saat ini belum mendukung vitamin D sebagai terapi yang dapat mengubah penyakit,” ujar Profesor Patricia Clark, salah satu penulis penelitian dari Fakultas Kedokteran UNAM, Meksiko.

Menurut para ahli, suplemen vitamin D tetap bermanfaat bagi orang yang mengalami kekurangan vitamin tersebut. Namun, mengonsumsi vitamin D dalam dosis tinggi dengan harapan dapat menyembuhkan penyakit tertentu belum memiliki bukti kuat.

Profesor Osvaldo Messina dari IRO Clinical Research and Regenerative Medicine Center, Argentina, menambahkan bahwa penelitian lebih besar masih diperlukan untuk mengetahui siapa saja yang paling mendapatkan manfaat dari suplementasi vitamin D.

“Diperlukan penelitian lanjutan dengan desain yang lebih baik agar dapat memahami hubungan antara kadar vitamin D, faktor genetik, dan dampak jangka panjangnya,” jelasnya.

Para peneliti juga menekankan bahwa menjaga kadar vitamin D tetap cukup masih penting untuk kesehatan tulang. Namun, apakah kadar vitamin D yang lebih tinggi mampu memberikan perlindungan tambahan terhadap gangguan sistem kekebalan tubuh masih menjadi pertanyaan.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa tidak semua suplemen yang populer memiliki efek besar terhadap penyakit tertentu. Vitamin D tetap memiliki peran penting, tetapi penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan kondisi kesehatan masing-masing.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment