Asap Kebakaran Hutan Bisa Tingkatkan Risiko Demensia dan Penyakit Mematikan Lainnya, Ini Penjelasan Ahli

11 Agustus 2025 19:54
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Partikel halus dalam asap tersebut berukuran sangat kecil—sekitar 30 kali lebih kecil dari diameter rambut manusia—sehingga mampu masuk ke aliran darah dan memberi ancaman berlapis pada paru-paru, jantung, bahkan otak.

Sahabat.com - Asap kebakaran hutan yang menyelimuti wilayah Michigan musim panas ini ternyata bisa meninggalkan dampak kesehatan serius jauh setelah langit kembali cerah. 

Partikel halus dalam asap tersebut berukuran sangat kecil—sekitar 30 kali lebih kecil dari diameter rambut manusia—sehingga mampu masuk ke aliran darah dan memberi ancaman berlapis pada paru-paru, jantung, bahkan otak.

Profesor epidemiologi Universitas Michigan, Sara Adar, menjelaskan bahwa polusi udara sejak lama diketahui berkaitan dengan kematian dini, gangguan pernapasan, hingga penyakit jantung. Lebih mengejutkan, dalam dekade terakhir, polusi partikel halus juga terbukti memengaruhi fungsi otak. 

“Otak kita sangat sensitif terhadap pasokan oksigen dan aliran darah. Kerusakan pembuluh darah yang memicu penyakit jantung juga dapat merusak otak,” ujarnya.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan di JAMA Internal Medicine menunjukkan bahwa paparan jangka panjang terhadap polusi PM2.5 dapat meningkatkan risiko demensia. 

Dampaknya lebih kuat ketika partikel berasal dari asap kebakaran hutan atau aktivitas pertanian. Alasannya, asap kebakaran sangat pekat dan bisa bertahan berhari-hari, membawa campuran zat beracun dari pohon, vegetasi, hingga bangunan, kendaraan, dan bahan bakar yang ikut terbakar. 

“Ketika dunia terbakar, semuanya ikut terbakar—dari stasiun bensin hingga rumah—melepaskan sup racun ke udara,” kata Adar.

Jonathan Overpeck, dekan School for Environment and Sustainability Universitas Michigan, menegaskan, “Ini jelas masalah perubahan iklim. Selama kita terus membakar bahan bakar fosil, membuat udara makin panas dan kering, kebakaran hutan akan semakin sering dan parah.” 

Richard Rood, profesor emeritus iklim dan ilmu antariksa, menambahkan bahwa pola cuaca kering setelah musim hujan menciptakan bahan bakar alami dari semak dan vegetasi yang kemudian memicu kebakaran besar.

Para ahli menyarankan masyarakat untuk meminimalkan paparan polusi udara dengan tetap berada di dalam ruangan saat kualitas udara buruk, menggunakan filter udara, atau memakai masker N95 jika harus keluar rumah. Orang dengan penyakit kronis, lansia, dan anak-anak diminta ekstra waspada. 

“Kebaikan alam akan kembali jika kita menjaga bumi. Tapi jika kita terus mengabaikan, kesehatan manusia yang akan membayar harga termahal,” tutup Overpeck.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment