Benarkah Mikroplastik di Otak Jadi Pemicu Baru Demensia?

24 September 2025 15:33
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Penelitian terbaru dari University of New Mexico menunjukkan bahwa demensia vaskular, yaitu penurunan fungsi kognitif akibat kerusakan pembuluh darah kecil di otak, ternyata jauh lebih kompleks dan bahkan bisa berkaitan erat dengan Alzheimer.

Sahabat.com - Dunia medis kembali dikejutkan dengan temuan baru mengenai demensia. 

Selama ini, Alzheimer selalu menjadi sorotan utama dengan ciri plak abnormal dan protein yang menumpuk di jaringan otak. Namun, penelitian terbaru dari University of New Mexico menunjukkan bahwa demensia vaskular, yaitu penurunan fungsi kognitif akibat kerusakan pembuluh darah kecil di otak, ternyata jauh lebih kompleks dan bahkan bisa berkaitan erat dengan Alzheimer.

Elaine Bearer, MD, PhD, profesor di UNM School of Medicine, memperkenalkan kerangka baru untuk mendefinisikan serta mengklasifikasikan berbagai jenis demensia vaskular. 

Dengan pendekatan ini, diharapkan penelitian bisa lebih cepat menemukan terapi efektif yang mampu mencegah hingga mengobati penyakit yang merusak kualitas hidup jutaan orang di dunia.

Selama ini faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dan aterosklerosis memang sudah diketahui berperan besar dalam demensia vaskular. Namun yang mengejutkan, Bearer menemukan adanya jejak nano dan mikroplastik dalam jumlah signifikan di otak manusia. 

“Kita seolah berjalan dalam kegelapan. Banyak patologi vaskular belum didefinisikan secara menyeluruh, jadi kita tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kita tangani. Dan kini, fakta bahwa nano dan mikroplastik ada di otak benar-benar membuka perspektif baru,” ujar Bearer.

Dalam penelitiannya, Bearer menggunakan mikroskop khusus untuk memeriksa jaringan otak yang disumbangkan keluarga penderita demensia di New Mexico. 

Hasilnya, banyak pasien yang sebelumnya didiagnosis Alzheimer ternyata juga memiliki kerusakan di pembuluh darah kecil otak. 

“Kami menduga di New Mexico, mungkin separuh penderita Alzheimer juga memiliki penyakit vaskular,” jelasnya.

Temuan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang seberapa jauh mikroplastik berperan dalam memperparah demensia. 

Bearer menambahkan, “Nanoplastik di otak adalah pemain baru dalam dunia patologi otak. Semua pemahaman kita tentang Alzheimer dan bentuk demensia lain harus direvisi setelah penemuan ini.” 

Ia juga menemukan bahwa semakin banyak jumlah plastik di otak, semakin parah tingkat peradangan dan kerusakan kognitif yang muncul.

Penelitian ini mendapat dukungan dari National Institutes of Health (NIH) dengan dana riset lebih dari 21 juta dolar AS, yang memungkinkan kolaborasi dengan para pakar neurologi seperti Gary Rosenberg, MD, direktur UNM Alzheimer’s Disease Research Center. 

“Mendeskripsikan perubahan patologis secara menyeluruh ini benar-benar sesuatu yang baru. Harapan saya, penelitian ini bisa menjadi dasar konsensus nasional untuk mengklasifikasikan perubahan vaskular dan dampak mikroplastik pada otak,” kata Bearer.

Dengan penemuan ini, jelas bahwa demensia tidak bisa lagi hanya dipandang sebagai masalah penuaan atau penyakit keturunan semata. Kehadiran mikroplastik dalam otak memberi sinyal bahaya baru yang harus diwaspadai, sekaligus peluang besar bagi ilmu kedokteran untuk menemukan solusi yang lebih efektif bagi kesehatan otak manusia di masa depan.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment