Sahabat.com - Siapa sangka, cara menyimpan jantung untuk transplantasi kini makin canggih dan bisa dilakukan di atas meja operasi, tanpa mesin mahal atau prosedur ribet?
Ya, dua rumah sakit di Amerika Serikat—Duke dan Vanderbilt—lagi jadi sorotan karena inovasi mereka yang bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa, mulai dari bayi mungil sampai pria dewasa yang butuh jantung baru.
Biasanya, jantung untuk transplantasi diambil dari pendonor yang sudah dinyatakan mati otak. Jantung mereka masih berdetak karena alat bantu, jadi gampang diambil dalam kondisi bagus.
Tapi bagaimana kalau seseorang meninggal bukan karena mati otak, melainkan karena jantungnya berhenti? Nah, ini disebut kematian sirkulasi atau donation after circulatory death (DCD).
Selama ini, organ dari pendonor DCD sering kali tidak terpakai karena khawatir kualitasnya menurun.
Tapi Dr. Aaron M. Williams dari Vanderbilt bilang, “Jantung DCD bekerja sebaik jantung dari donor mati otak.”
Masalahnya cuma soal teknik pengambilan dan cara memastikannya masih layak pakai. Dan di sinilah inovasi mereka jadi game-changer.
Dr. Joseph Turek dari Duke punya cara unik. Dia dan timnya mempraktikkannya dulu ke anak babi.
Setelah yakin, mereka mencoba metode ini ke bayi usia 1 bulan yang akan dicabut alat bantu hidupnya. Mereka cepat-cepat angkat jantung si bayi, lalu menyambungkannya ke selang oksigen dan darah… langsung di meja operasi! Hanya butuh lima menit untuk tahu jantung itu sehat.
“Pembuluh koroner terisi dengan baik, warnanya merah muda, dan berdetak,” kata Turek dengan lega.
Setelah itu, jantung kecil itu segera dimasukkan ke es dan dibawa ke Duke untuk ditanamkan ke bayi lain yang berusia 3 bulan.
Vanderbilt punya pendekatan yang bahkan lebih simpel. Mereka hanya menginfuskan larutan dingin penuh nutrisi ke dalam jantung pendonor sebelum dilepas. Mirip dengan prosedur standar untuk jantung dari donor mati otak.
“Itu mengisi ulang nutrisi yang hilang saat proses kematian dan membantu melindunginya selama perjalanan,” jelas Williams. Sampai saat ini, mereka sudah melakukan sekitar 25 transplantasi dengan metode ini. Ia menambahkan,
“Menurut kami, Anda tidak perlu harus ‘menghidupkan kembali’ jantung itu.”
Kenapa inovasi ini penting? Karena ribuan orang menunggu transplantasi jantung—baik orang dewasa maupun bayi. Di AS saja, tiap tahun sekitar 700 anak masuk daftar tunggu transplantasi jantung, dan 20% dari mereka meninggal sebelum sempat mendapatkannya. Dan tahun lalu, hanya 793 dari 4.572 transplantasi jantung yang berasal dari pendonor DCD, padahal jenis kematian ini menyumbang 43% dari semua donor meninggal.
Peneliti dari NYU Langone Health, Brendan Parent, menyebut langkah ini sebagai terobosan penting. “Inovasi untuk menemukan cara baru dalam menyelamatkan organ setelah kematian sirkulasi sangat penting untuk mengurangi kelangkaan donor,” katanya.
Meski masih dalam tahap awal dan butuh studi lebih lanjut, kalau metode-metode ini terbukti aman dan efektif, rumah sakit yang selama ini menolak teknik kontroversial NRP bisa punya alternatif yang etis dan praktis.
0 Komentar
Masih Perkasa di Atas 50? Rahasia Kehidupan Intim Pria Tetap Bergairah
Telat Haid di Usia 40-an? Jangan Panik! Ini Cara Bedakan Gejala Menopause dan Hamil
Sayuran Aneh Ini Ternyata Rahasia Sehat Usus, Kaya Prebiotik dan Bikin Kenyang Lebih Lama!
Tekanan Darah Tinggi Bisa Turun Alami, Ini Daftar Makanan Sehari-hari yang Direkomendasikan Ahli
Minum Vitamin Ini Disebut Bisa Bikin Umur Lebih Panjang, Benarkah?
Rutin Minum Kopi atau Teh Bisa Cegah Demensia? Ini Temuan Peneliti yang Bikin Lega
Dokter Ungkap Trik Simpel Turunkan Gula Darah Secara Alami, Bisa Langsung Dicoba di Rumah
Tanpa Disadari, 4 Makanan Sehari-hari Ini Bisa Merusak Kesehatan Ususmu
Leave a comment