Sahabat.com - Bagi banyak orang, ganja dikenal sebagai bahan alami yang dianggap aman karena penggunaannya sudah dilegalkan di sejumlah negara, termasuk beberapa negara bagian di Amerika Serikat.
Namun, Sebuah studi terbaru justru membantah anggapan itu. Penelitian ini menemukan bahwa mereka yang mengalami gangguan penggunaan ganja atau cannabis use disorder (CUD) berisiko tiga kali lebih tinggi terkena kanker mulut dalam waktu lima tahun.
Dalam studi yang diterbitkan di Preventive Medicine Reports, para peneliti menganalisis data dari lebih dari 45 ribu pasien yang menjalani skrining gangguan penggunaan obat.
Dari jumlah itu, hampir seribu orang didiagnosis mengalami CUD dalam lima tahun setelah pemeriksaan pertama. Dan dari kelompok tersebut, proporsi yang mengidap kanker mulut jauh lebih tinggi dibanding mereka yang tidak mengalami CUD.
Yang mengejutkan, walau jumlah perokok dalam kelompok ini relatif kecil, risiko kanker mulut tetap tinggi pada pengguna ganja bermasalah.
Bahkan setelah disesuaikan dengan faktor risiko lain seperti usia, jenis kelamin, berat badan, dan merokok, risiko kanker pada kelompok CUD tetap melonjak hingga tiga kali lipat.
Ini menunjukkan bahwa ganja berpotensi menimbulkan kerusakan serupa seperti tembakau terhadap jaringan mulut dan saluran pernapasan.
Menurut Dr. Liji Thomas, salah satu penulis artikel ini, “Asap ganja menghasilkan senyawa kimia berbahaya yang dapat merusak DNA dan mengganggu sistem kekebalan tubuh, khususnya pada jaringan mulut dan paru-paru yang terpapar langsung.”
Ia menambahkan bahwa zat aktif utama dalam ganja, yaitu THC, berperan dalam menurunnya respon imun tubuh, yang berpotensi membuat sel kanker lebih mudah berkembang.
Penelitian ini juga mengungkap bahwa pengguna ganja yang bermasalah seringkali juga mengonsumsi alkohol atau merokok, yang semakin memperbesar risiko. Namun, bahkan tanpa kombinasi itu, ganja sendiri sudah cukup untuk meningkatkan peluang terjadinya perubahan sel yang dapat berkembang menjadi kanker.
Meski angka keseluruhan kejadian kanker dalam penelitian ini tergolong rendah, temuan bahwa risiko meningkat tiga kali lipat dalam waktu lima tahun sudah cukup membuat waspada. Ini menjadi pengingat bahwa penggunaan ganja secara berlebihan bukan tanpa konsekuensi.
Banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa kebiasaan mereka bisa termasuk dalam kategori gangguan penggunaan ganja, apalagi jika penggunaannya dianggap wajar karena sudah legal.
Para peneliti menyarankan agar orang-orang yang menggunakan zat adiktif seperti ganja mulai menjalani skrining kanker mulut secara rutin, terutama jika penggunaan sudah masuk tahap bermasalah. Ini penting karena kanker mulut yang terdeteksi sejak dini punya peluang lebih besar untuk ditangani dengan sukses.
Penelitian ini juga membuka jalan bagi studi lanjutan untuk mengeksplorasi hubungan antara frekuensi penggunaan ganja dan dampaknya terhadap kesehatan jangka panjang.
Fakta bahwa ganja bisa menyebabkan mutasi genetik dan perubahan sel mirip dengan tembakau adalah hal yang perlu menjadi perhatian, terutama di tengah gelombang legalisasi ganja yang semakin meluas.
Bagi kamu yang mengira ganja itu aman hanya karena legal, sebaiknya mulai berpikir ulang. Legal bukan berarti tanpa risiko. Terlebih lagi, jika penggunaan tidak terkendali, konsekuensinya bisa jauh lebih serius dari yang dibayangkan.
0 Komentar
Ukuran Leher Bisa Jadi Tanda Masalah Kesehatan Tersembunyi, Waspada Jika Melebihi Batas Ini
Pil Baru Kanker Payudara Terbukti Bisa Perpanjang Hidup, Hasil Penelitian Bikin Harapan Baru
Rahasia Mengejutkan: Bahan Makanan Sehari-hari Ini Bisa Merusak Otak dan Picu Tekanan Darah Tinggi
Ternyata Sumbatan Aliran Darah Bisa Bikin Kanker Cepat Menyebar
Lari Maraton Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Usus? Studi Mengejutkan Ini Bikin Atlet Waspada
Leave a comment