Jangan Asal Minum! 4 Suplemen Anti-Aging Ini Direkomendasikan Ahli, Sisanya Cuma Hype

07 April 2026 14:19
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Ilustrasi suplemen kesehatan yang diklaim membantu memperlambat penuaan.

Sahabat.com - Keinginan untuk hidup lebih lama dan tetap sehat membuat banyak orang mulai melirik suplemen longevity atau anti-aging. Bahkan, laporan tahun 2025 menunjukkan sekitar 60% orang menjadikan penuaan sehat sebagai prioritas utama. Namun, di balik maraknya klaim “memperlambat penuaan”, para ahli mengingatkan bahwa tidak semua suplemen benar-benar bekerja sesuai janji.

Faktanya, sebagian besar penelitian tentang suplemen longevity masih dilakukan pada hewan, sehingga bukti pada manusia masih terbatas. Efektivitasnya pun bisa berbeda tergantung gaya hidup, kondisi kesehatan, hingga faktor genetik masing-masing individu.

Beberapa suplemen memang dinilai cukup menjanjikan. Vitamin D, misalnya, disebut dapat membantu memperlambat penuaan sel jika dikonsumsi dalam dosis yang tepat. Selain itu, kekurangan vitamin D juga dikaitkan dengan risiko penyakit terkait usia seperti Alzheimer dan Parkinson. “Vitamin D adalah suplemen yang cukup didukung bukti, terutama jika seseorang memang mengalami kekurangan,” ujar Hillary Lin.

Suplemen protein juga penting, terutama bagi orang yang mulai kehilangan massa otot seiring bertambah usia. Dengan gaya hidup aktif, asupan protein dapat membantu menjaga kekuatan tubuh. Lin menambahkan, “Sarcopenia atau kehilangan massa otot terjadi perlahan dan sering tidak disadari sejak dini.”

Omega-3 juga sering direkomendasikan karena manfaatnya untuk kesehatan jantung dan sifat anti-inflamasi. “Omega-3 adalah rekomendasi paling sering saya berikan,” kata Lin. Selain itu, magnesium juga dianggap membantu menjaga keseimbangan tubuh dan mendukung penuaan sehat, meski bukti pada manusia masih terus diteliti.

Namun, tidak semua suplemen layak diikuti tren. Beberapa seperti NMN dan NAD+ booster masih minim bukti pada manusia. “Uji coba pada manusia masih kecil dan singkat. Kita belum benar-benar tahu efektivitasnya,” jelas Lin. Hal serupa juga terjadi pada resveratrol yang populer sebagai anti-aging, namun hasil pada manusia belum memuaskan.

Menurut Pravin Date, berberine dan ashwagandha juga berada di area abu-abu. Meski memiliki potensi manfaat metabolik dan pengelolaan stres, bukti ilmiahnya belum cukup kuat untuk direkomendasikan secara luas.

Pada akhirnya, suplemen hanyalah pelengkap. Pola makan sehat, olahraga, dan gaya hidup seimbang tetap menjadi kunci utama untuk hidup lebih panjang dan berkualitas.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment