Telur Retak Masih Aman Dimakan? Jawaban Ahli Ini Bisa Bikin Anda Langsung Buang dari Kulkas

03 Juni 2026 12:27
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Seorang pembeli memeriksa kondisi telur di dalam kemasan sebelum membeli di supermarket untuk memastikan tidak ada cangkang yang retak.

Sahabat.com - Banyak orang terbiasa memeriksa kondisi telur sebelum membelinya di supermarket. Namun, bagaimana jika telur justru retak setelah sampai di rumah, saat perjalanan pulang, atau ketika dipindahkan ke dalam kulkas? Apakah masih aman untuk dikonsumsi?

Menurut pakar keamanan pangan dan pengacara asal Washington, Bill Marler, telur yang retak sebaiknya tidak lagi dikonsumsi. Ia menegaskan bahwa cangkang yang retak dapat menjadi pintu masuk bagi bakteri berbahaya seperti Salmonella.

“Telur yang retak memungkinkan Salmonella masuk dan berkembang di dalam telur. Risikonya cukup signifikan,” ujar Marler.

Meski demikian, Profesor Ilmu Pangan dari Rutgers University, Donald Schaffner, menjelaskan bahwa tingkat risiko juga dipengaruhi oleh ukuran retakan dan berapa lama telur berada dalam kondisi tersebut. Menurutnya, retakan kecil yang baru terjadi memiliki risiko lebih rendah dibanding retakan besar yang sudah berlangsung lama.

“Jika retakannya kecil dan baru terjadi, kemungkinan kontaminasi bakteri masih relatif kecil. Namun jika retakannya besar atau sudah lama, peluang bakteri masuk dan berkembang menjadi lebih besar,” kata Schaffner.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga merekomendasikan agar telur yang retak atau kotor dibuang. Walau memasak telur hingga matang dapat membantu membunuh Salmonella, para ahli tetap mengingatkan adanya kemungkinan bakteri lain menghasilkan racun yang tidak sepenuhnya hilang saat proses pemanasan.

Salmonella sendiri merupakan salah satu penyebab utama keracunan makanan yang dapat memicu demam, diare, dan kram perut. Risiko komplikasi lebih tinggi pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Ahli kebijakan keamanan pangan dari Northeastern University, Darin Detweiler, menjelaskan bahwa kontaminasi bahkan bisa terjadi sebelum cangkang telur terbentuk. Meski begitu, risiko keseluruhan bagi konsumen tetap tergolong rendah jika telur disimpan dan diolah dengan benar.

Schaffner menambahkan bahwa menyimpan telur di dalam kulkas sangat penting untuk memperlambat pertumbuhan bakteri. Ia juga mengingatkan empat prinsip dasar keamanan pangan, yaitu menjaga kebersihan, memisahkan bahan makanan, memasak hingga matang, dan menyimpan pada suhu dingin.

Bila ragu terhadap kondisi telur yang retak, para ahli sepakat bahwa langkah paling aman adalah membuangnya daripada mengambil risiko kesehatan.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment