Makan Yogurt Setiap Hari Bisa Perlambat Penuaan? Studi Baru Temukan Hasil Mengejutkan

10 Juli 2026 13:05
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Ilustrasi seorang pria menikmati yogurt tanpa pemanis sebagai bagian dari pola hidup sehat yang dikaitkan dengan perlambatan penuaan biologis.

Sahabat.com - Siapa sangka, kebiasaan sederhana seperti makan yogurt setiap hari ternyata berpotensi membantu memperlambat proses penuaan biologis. Temuan ini berasal dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Aging, yang meneliti pengaruh perubahan pola hidup terhadap kecepatan penuaan tubuh.

Penelitian tersebut melibatkan 48 pria berusia 50 hingga 74 tahun dengan berat badan berlebih di Jepang. Selama 12 minggu, separuh peserta menjalani program gaya hidup sehat, sementara sisanya tetap menjalankan kebiasaan seperti biasa.

Dalam program tersebut, peserta diminta mengonsumsi 100 gram yogurt tanpa pemanis setiap hari. Mereka juga mendapat pendampingan pola makan agar tidak makan berlebihan, mengurangi camilan, menghindari minuman manis, serta rutin berjalan kaki atau menggunakan alat stepper selama sekitar 30 menit, minimal tiga kali dalam seminggu.

Untuk melihat dampaknya, para peneliti mengambil sampel darah dan menganalisis perubahan DNA menggunakan metode DunedinPACE, yaitu alat yang mengukur kecepatan penuaan biologis, bukan usia berdasarkan jumlah tahun.

Hasilnya cukup menarik. Kelompok yang menjalani pola hidup sehat menunjukkan penurunan laju penuaan biologis sekitar 2,2 persen dibandingkan kelompok kontrol. Peneliti juga menemukan adanya perbaikan pada salah satu penanda DNA yang berkaitan dengan fungsi ginjal.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa manfaat tersebut tidak dapat dikaitkan hanya dengan konsumsi yogurt. "Efek perlambatan penuaan tampaknya merupakan hasil gabungan dari konsumsi probiotik, pola makan sehat, dan aktivitas fisik," tulis tim peneliti dalam laporannya.

Penelitian ini juga memiliki sejumlah keterbatasan, seperti jumlah peserta yang sedikit, durasi penelitian yang hanya 12 minggu, serta hanya melibatkan pria Jepang dengan berat badan berlebih. Karena itu, para peneliti menekankan bahwa studi lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui apakah perubahan biologis ini benar-benar memberikan manfaat kesehatan dalam jangka panjang.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment