Mengenal Fenomena Self Harm pada Anak dan Faktor yang Mempengaruhinya

11 Juni 2024 18:02
Penulis: Alamsyah, lifestyle
Seringkali anak juga menyembunyikan kebiasaan self-harming hingga luput dari pengawasan orang tua. (iStock)

Sahabat.com - Anak dapat mengalami penyakit kejiwaan seperti halnya orang dewasa. Anak yang mengalami penyakit kejiwaan ini disebut self harm. Tanda anak mengalami self harm antara lain seperti, suka menyakiti diri sendiri ketika marah atau kecewa. Hal itu dilakukan sebagai bentuk mencari perhatian orang dewasa bahwa dirinya sedang memprotes sesuatu yang diterimanya.

Faktor yang mempengaruhi anak mengalami self harm, salah satunya yang disebut UNICEF adalah, anak memendam emosi dan stres dan dia tak bisa  melampiaskan, sehingga menyakiti diri sendiri.

Psikologis dan jiwa anak akan terancam jika self harm tak ditangani dengan cepat. Orang yang ada di sekitar si anak juga terancam jika ada anak yang mengalami self harm.

Berikut ini faktr yang mempengaruhi anak mengalami self harm:

-Perubahan kehidupan yang drastis, seperti perceraian, kematian, atau pindah sekolah.

- Ketakutan akan kegagalan, seperti pada ujian atau dalam kondisi sosial.
 
- Menjadi korban atau saksi kekerasan di rumah, sekolah, dan/atau hubungan.

- Kepercayaan diri yang rendah.

- Mengalami trauma.

- Bahaya untuk Kemudian Hari

Kebanyakan anak menggunakan self-harm sebagai pelarian dari realitas. Namun, tidak menutup kemungkinan resikonya akan memburuk jika tidak ditangani dengan baik. Sebuah jurnal ilmiah yang diterbitkan PudMed Central menyebutkan, seseorang yang melakukan self harm lebih rentan melakukan percobaan bunuh diri di kemudian hari.

Tanda-Tanda Anak Melakukan Self-Harming

Tidak ada batas usia kapan anak bisa mengenal dan melakukan self harming. Seringkali anak juga menyembunyikan kebiasaan self-harming hingga luput dari pengawasan orang tua. Dengan begitu, orang tua wajib mewaspadai tanda dan perilaku anak, seperti berikut ini:

- Luka, memar, atau bekas terbakar yang tidak jelas penyebabnya. Sering ditemukan di pergelangan tangan, lengan, paha, atau dada.

- Memakai baju dan celana panjang, bahkan di cuaca panas.

- Menolak berganti pakaian di depan orang lain, misalnya saat pelajaran olahraga atau di ruang ganti.

- Sering menarik rambut.

- Perubahan dalam kebiasaan makan, makan berlebihan atau kurang makan.

- Berolahraga secara berlebihan.

Apa yang Harus Dilakukan?

Jangan segan untuk membuka komunikasi dengan anak. Tanyakan bagaimana ia bisa mengenal dan melakukan self harm. Saat anak bercerita, jangan memarahi atau menghakimnya. Bahkan ketika akar masalahnya ada pada orang tua, terimalah dengan besar hati dan coba mencari jalan tengah untuk mengatasi permasalahan yang ada. Setelah itu, ajak anak mencari distraksi yang bersifat positif tanpa menyakiti diri.

Tetapi tidak semua anak siap dan mau berkomunikasi. Tetap tenang jika anak mulai tantrum atau menolak bercerita. Beritahu anak kalau ia bisa berbicara pada orang tua kapan saja. Namun ketika kondisi semakin memburuk dan anak semakin tertutup, segera minta pertolongan pada psikolog atau tenaga ahli lainnya.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment