Sahabat.com - Seorang pria berusia 78 tahun dari Birmingham, Inggris, ditemukan memiliki tiga penis, menjadikannya kasus kedua yang terverifikasi dengan kondisi langka bernama triphallia. Hanya satu dari ketiga penis tersebut yang berfungsi, sementara dua lainnya terletak di dalam kulit kantung skrotum, yang juga melindungi testis.
Kondisi ini baru terungkap setelah pria tersebut mendonasikan tubuhnya untuk penelitian ilmiah setelah meninggal dunia. Diperkirakan, ia mungkin menjalani hidupnya tanpa menyadari variasi anatomi yang unik ini.
Menurut dokter di Sekolah Kedokteran Universitas Birmingham, sekitar satu dari lima hingga enam juta anak laki-laki dilahirkan dengan lebih dari satu penis. Di seluruh dunia, lebih dari 100 kasus diphallia (dua penis) telah tercatat, namun pria ini merupakan yang kedua yang memiliki triphallia.
Kasus pertama triphallia dilaporkan di India pada tahun 2015, tetapi tidak dapat diverifikasi karena tidak dipublikasikan dalam jurnal medis. Kasus lain dilaporkan pada tahun 2020, melibatkan seorang bayi berusia tiga bulan di Duhok, Irak. Dalam kasus tersebut, ahli urologi menemukan bahwa kedua penis tambahan tidak memiliki uretra, sehingga operasi dianggap sebagai pilihan terbaik.
Para mahasiswa di Birmingham menemukan kondisi unik ini saat membedah tubuh pria tersebut, yang memiliki tinggi sekitar enam kaki dan berpostur sedang hingga besar. Penis ketiga ditemukan memiliki fitur anatomi yang berbeda, tidak memiliki korpus spongiosum atau uretra.
Dalam laporan yang dipublikasikan di Journal of Medical Case Reports, para dokter menyebutkan bahwa pria ini mungkin mengalami berbagai masalah kesehatan akibat defisit fungsional, termasuk infeksi saluran kemih, disfungsi ereksi, dan masalah kesuburan. Dispareunia, atau nyeri genital selama atau setelah berhubungan seksual, juga bisa menjadi masalah mengingat potensi ereksi dari penis tambahan.
Penyebab dari keberadaan penis supernumerary, istilah medis untuk anggota tubuh tambahan, masih menjadi misteri. Kasus ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1600-an, dan tidak ada faktor risiko tunggal yang diketahui. Diduga, kondisi ini terjadi secara acak saat alat kelamin berkembang di dalam rahim. Dalam banyak kasus yang dilaporkan, penis tambahan tersebut biasanya diangkat melalui pembedahan.
0 Komentar
Telur Retak Masih Aman Dimakan? Jawaban Ahli Ini Bisa Bikin Anda Langsung Buang dari Kulkas
Kanker Prostat Joe Biden Terlambat Terdeteksi, Dokter Ungkap Alasan yang Jarang Disadari Pria Lansia
Rahasia Panjang Umur! 3 Ahli Gizi Ungkap Roti Paling Sehat yang Diam-Diam Bikin Tubuh Awet Muda
Makanan Kaya Kalsium yang Kandungannya Lebih Tinggi dari Segelas Susu, Cocok untuk Tulang Sehat
Buah yang Disebut Bisa Bantu Turunkan Risiko Kanker Payudara
Leave a comment