Sahabat.com - Banyak pria lebih fokus membentuk otot dibanding menjaga kesehatan tulang. Padahal, para ahli mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut bisa menjadi kesalahan besar. Osteoporosis bukan hanya penyakit yang menyerang wanita, tetapi juga dapat dialami pria, terutama seiring bertambahnya usia.
Yang perlu diwaspadai, pengeroposan tulang sering berkembang tanpa gejala. Banyak orang baru menyadari kondisi ini setelah mengalami patah tulang. Sejumlah penelitian pada pria berusia 50 tahun ke atas menemukan bahwa usia yang semakin tua, kebiasaan merokok, berat badan rendah, dan riwayat patah tulang menjadi faktor risiko utama menurunnya kepadatan tulang.
Tidak seperti otot, tulang yang melemah tidak bisa dilihat atau dirasakan secara langsung. Seiring bertambahnya usia, proses penghancuran tulang berlangsung lebih cepat dibanding pembentukan tulang baru sehingga risiko patah tulang terus meningkat.
Para ahli menyarankan pria berusia di atas 50 tahun untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai kesehatan tulang, terutama jika memiliki riwayat patah tulang, merokok, mengonsumsi obat kortikosteroid jangka panjang, atau memiliki anggota keluarga dengan osteoporosis. Pemeriksaan kepadatan tulang menggunakan pemindaian DEXA masih menjadi metode paling akurat untuk mendeteksi risiko sebelum terjadi cedera.
Meta-analisis yang diterbitkan dalam Osteoporosis International pada 2025 juga menunjukkan bahwa kepadatan mineral tulang yang rendah merupakan salah satu prediktor terkuat terjadinya patah tulang, khususnya pada tulang pinggul. Peneliti menyimpulkan bahwa tes kepadatan tulang tetap menjadi cara paling efektif untuk mengidentifikasi orang yang berisiko tinggi mengalami patah tulang sebelum cedera terjadi.
Kabar baiknya, menjaga tulang tetap kuat tidak harus rumit. Panduan praktik klinis yang diterbitkan BMJ pada 2025 merekomendasikan latihan beban dan olahraga yang menopang berat badan, seperti angkat beban, naik turun tangga, hiking, hingga jalan cepat.
Para peneliti menyatakan bahwa latihan tersebut memberikan tekanan positif pada tulang sehingga membantu mempertahankan kekuatan tulang seiring bertambahnya usia. Mereka juga merekomendasikan latihan keseimbangan untuk mengurangi risiko jatuh yang menjadi penyebab utama patah tulang pada lansia.
Sementara itu, mengandalkan suplemen kalsium dan vitamin D saja ternyata belum cukup. Tinjauan sistematis pada 2026 yang melibatkan lebih dari 153 ribu peserta menemukan bahwa konsumsi kedua suplemen tersebut hanya memberikan sedikit, bahkan tidak memberikan penurunan risiko patah tulang yang signifikan pada orang dewasa sehat.
Para peneliti menegaskan bahwa cara terbaik menjaga kesehatan tulang adalah memenuhi kebutuhan protein, kalsium, dan vitamin D dari makanan, serta menjadikan latihan kekuatan dan aktivitas fisik yang menopang berat badan sebagai rutinitas harian.
0 Komentar
Sering Kembung dan Sembelit? Ahli Ungkap Kesalahan Pola Makan yang Sering Dilakukan Pria
Susah Tidur Saat Menginap di Tempat Baru? Ternyata Ada Alasannya, Ini yang Terjadi pada Otak
Blueberry Vs Anggur, Mana yang Lebih Sehat? Ini Buah yang Unggul dalam Vitamin dan Serat
7 Minuman Energi Dibandingkan, Mana yang Paling Tinggi Kafein dan Gula?
Nonton Olahraga Ternyata Bisa Bikin Bahagia, Ini Manfaatnya untuk Kesehatan Mental
Leave a comment